Berbekal Al Fatihah

Oleh ust. Topan Setiadipura

Alhamdulillah washolaatu wassalaamu’alaa rasuulillah,

Rekan sekalian, setelah pada serial pertama kita mempelajari ayat-ayat pertama surat Al Kahfi dimana kita dapati informasi mengenai sifat Al Qur’an. Kita telah pelajari bahwa kabar dari Al Qur’an bukan hanya BENAR, tapi lebih jauh dari itu juga memang merupakan kabar-kabar pilihan yang apabila kita konsumsi akan memenuhi jiwa dan fikiran kita dengan keimanan dan ilmu. Begitupun dengan perintah yang terdapat dalam Al Qur’an, tidak hanya terbebas dari kesia-siaan apalagi kezhaliman namun perintah-perintah tersebut merupakan bentuk pensucian hati dan jiwa kita.

Berbekal keyakinan diatas, pada serial kedua ini mari kita menikmati diantara ilmu yang terkandung dalam surat Al Fatihah. Surat yang seandainya kita sukses menikmati ilmunya tentu sholat akan menjadi momen yang sangat indah, betul-betul menjadi sarana istirahat, pensucian, dan juga penguatan visi sebagai seorang hamba.

Pelajaran dari surat yang syarat dengan ilmu dan hikmah ini akan kita uraikan dalam beberapa point berikut :

1. Menyadari terbukanya saluran komunikasi langsung dengan Allah ta’ala dalam setiap bacaan Al Fatihah dalam sholat kita. Untuk itu simaklah hadits qudsi yang dikoleksi oleh Imam Muslim dalam shohihnya berikut

"Allah ta’aala berfirman:  "Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua  bahagian; dan untuk hamba-Ku apa yang dimintanya.

Bila hamba-Ku mengucapkan:  'Alhamdulillahi rabbil 'alamiin' , Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku'.

Dan apabila hamba-Ku mengucapkan: 'Arrahmaanirrahiim' Allah berfirman: Hamba-ku telah menyanjung-Ku.

Apabila hamba-Ku mengucapkan: 'Maalikiyaumiddin',  Berfirman Allah swt.: Hamba-Ku telah memuja-Ku, dan adakalanya Dia berfirman:  "Hamba-Ku telah menyerahkan persoalannya kepada-Ku."

Dan ketika hamba-Nya mengatakan 'Iyyakana'budu wa iyyaka nasta'in' Berfirman Allah swt.: "Inilah antara Aku dan Hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.

Dan apabila hamba-Ku mengucapkan: 'Ihdinashshiraatal mustaqiim, shiraathalladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdluu bi'alahim wa ladhoolliin'. Allah berfirman: "Inilah untuk hamba-ku dan untuk hamba-Ku apa yang dimintanya". ( H.R. Muslim, Malik, Abu Daud, turmudziy, An-Nasaai.).

Rekan sekalian, dari hadits diatas begitu jelas bagaimana komunikasi yang terjadi dalam setiap bacaan Al Fatihah kita dalam sholat, sungguh saying kalau kita mengabaikan kanal komunikasi dengan zat yang telah memberikan semua kenikmatan ini kepada kita.

2. Memaknai dan menata hati di setiap ayat yang kita baca. Kita coba memaknai komunikasi ini dan menata hati kita untuk mengoptimalkannya. Sedikit upaya optimalisasi tersebut kita isi munajat ini dengan hal-hal berikut :

· Kita memuji Allah Rabb semesta alam. Rabb yang diantaranya bermakna sebagai pencipta, pemilik, dan pengatur alam semesta ini. Maka dengan ‘Allhamdulillahi rabbil ‘aalamiin’ kita memuji Allah dan mengesakan Allah sebagai pencipta, pemilik, dan pengatur alam semesta. Inilah yang diistilah sebagai tauhid rububiyah. Dengan keyakinan ini terputuslah kebergantungan hamba kepada selain Allah, seiring dengan tumbuhnya tawakkal kepada Allah.

· Kita menggungkan Allah dengan sifat kasih dan sayangnya, yang dengan sifat inilah kita dan semua alam ini mendapatkan kenikmatan-Nya. Bahkan ujian yang kita terima adalah bentuk lain dari kasih dan sayang Allah ta’ala. Maka dengan ayat ini kita mengagungkan Allah atas sifat kasih dan sayangnya.

· Mengakui Allah ta’ala sebagai raja di hari pembalasan. Sebenarnya Allah adalah Raja di hari yang telah berlalu, sedang kita lalui, dan juga hari-hari yang akan datang, namun pada hari ini, hari dimana Allah membalas semua amal hamba-Nya secara adil tampak jelaslah sifat ini…tersadarlah hamba yang sempat mengklaim sifat ini atau sekedar sebagian dari sifat ini ketika didunia. Pada titik inipun kita mengingat kembali konsep ‘ad-diin’ yang berarti ‘pembalasan secara adil’, bahwa semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan, akan dibalas secara adil. Dengan konsep ini, kita takut melakukan kemaksiyatan sekecil apapun sebaliknya begitu bersemangat pada kebaikan seringan apapun…karena kita yakin tidak ada yang hilang begitu saja..semuanya dinilai dan dibalas secara adil.

· Menyatakan penghambaan kita dengan ‘iyyaaka na’budu’ ..’hanya kepada Mu lah kami menyembah’ sebagai deklarasi kita bahwa rasa cinta, takut, dan harap, serta semua tindakan yang muncul dari perasaan tersebut kita tujukan kepada Allah ta’ala. Sebagai tindak lanjut dari pengakuan rububiyah kita pada-Nya, karena hanya zat yang mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta inilah yang pantas untuk dijadikan sebagai tujuan tunggal dari semua persembahan ibadah kita.

· Dilanjut dengan ‘iyyakanasta’iin’ sebagai bentuk permintaan tolong kita kepada Allah ta’ala. Pengakuan hamba yang lemah bahwa ia sangat memerlukan pertolongan Allah ta’ala , rabb dan tujuan ibadahnya. Bahkan lebih jauh, kita menyatakan bahwa Allah lah satu-satunya tempat kita meminta pertolongana.

· Memohon ‘shiraathal mustaqiim’ yang bermakna kita meminta ditunjuki jalan yang lurus dan keistiqamahan diatas jalan tersebut, memohon untuk ditunjuki dalan kebenaran dan kemampuan untuk mengamalkan bahkan memperjuangkan kebenaran tersebut.

· Itulah jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, jalan yang mengumpulkan ilmu dan amalb. Tidak menjadi orang yang dimurkai (maghduub) karena mengenal kebenaran namun tidak menjalankan apalagi memperjuangkannya, atau bersegera melakukan amal tanpa memiliki ilmu sebagai dasar amal tersebut sehingga akhirnya ia tersesat (dholliin) dan sia-sia semua amalnyac.

Semoga Allah menganugerahkan kenikmatan bermunajat dalam surat yang mulia ini, membuahkan ilmu dan amal serta keistiqamahan diatas keduanya.

Alhamdulillah washolatu wassalaamu ‘ala rasuulillah.

Rujukan Umum :

1. Tafsir Ibnu Katsir

2. Tafsir As Sa’di

Keterangan tambahan :

a Dengan tetap bersyukur dan berterimakasih kepada makhluk yang telah Allah jadikan perantara datangnya pertolongan tersebut.

b Simak surat An Nisaa ayat 69.

c Simak surat Al Kahfi ayat 104.