(Ringkasan) To pray, to eat, to live as a muslim

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Video singkat interview ttg seorang Muslim Jepang Mr. Naoki Maeno (39 tahun (2015)) (Nama Muslim : Abu Hakeem Ahmad). Beliau juga dikenal sebagai Imam di Masjid Hiro, kota Ichikawa, Prov. Chiba, Masuk Islam sejak umur 19 tahun.

Beliau menjawab tiga pertanyaan diantaranya :

1. To Pray

Q : Apa itu sholat?

A : Sholat merupakan salah satu amalan wajib bagi muslim yang dilakukan 5 kali sehari

Q : Apa makna dan tujuan sholat?

A : Saya percaya bahwa sholat adalah kesempatan yang sangat baik untuk meyakini identitas kita setiap hari, Siapa saya? Darimana asal saya? Kemana saya akan menuju? Apa tujuan hidup saya? Saya mengajukan pertanyaan tersebut pada diri saya dan menyakini siapa saya disetiap melakukan sholat.

2. To Eat

Q : Apa yang yang dimaksud Halal?

A : Dalam bahasa Arab bermakna "yang dibolehkan"

Q : Terkait haram, makanan apa saja yang diharamkan?

A : Yang paling dikenal adalah babi, selain itu daging seperti sapi, ayam, kambing, unta, yang tidak disembelih dengan cara Islam pada dasarnya juga haram.

Di Jepang, sebelum saya memeluk Islam, sering sekali hal2 yang haram (makanan) menyita perhatian dan ditanggapi berlebihan sehingga banyak orang Jepang menanggap kasihan bagi orang Islam atas keharaman sesuatu dan juga tidak praktis. Tetapi, hal-hal yang haram sebetulnya tidak banyak dan bukan penghambat dalam hidup.

3. To live

Q : Mesti Sholat 5 kali sehari, ada halal dan haram, kelihatannya terlalu banyak aturan, bgmn bisa Anda jalani pilihan yang banyak aturan ini?

A : Sebenarnya kontras. Melihatnya sebagai "banyak aturan" adalah hal yang tidak pas dalam sudut pandang saya/kami setelah menjadi muslim.Ya, saya memandangnya sebagai "banyak aturan" sebelum memeluk Islam, dan mempertanyakan kenapa didunia ini ada seseorang yang membatasi diri atau memasukkan diri dalam aturan ketat dengan penuh keikhlasan.

Kita hanya mengikutinya atas dasar pilihan pribadi dan keyakinan atas setiap aturan. Hal yang utama adalah tidak ada paksaan dalam memeluk Islam. Jadi, saya tidak merasa seperti dalam kesempitan. Bagi saya, kepercayaan memiliki makna yang sama dengan hidup.

Sebenarnya saya pernah memutuskan menjadi biksu (Buddha) saat berumur 14 tahun. Pada suatu saat, saya sangat terbebani dengan pertanyaan tentang hidup dan mati. Sejak saat itu, saya berpikir bahwa agama yang sebenarnya adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan sebagai jalan hidup. Saya selalu memimpikan agama yang sebenarnya, yaitu agama yang mempengaruhi hidup kita selaam 24 jam sehari 7 hari seminggu.

Sehingga saya sangat terkesan dengan Islam ketika mengetahuinya sangat cocok dengan banyangan saya tentang agama yang sebenarnya, yang selama ini dicari.

Jalan hidup sebagai Muslim adalah bukan suatu hal yang memisahkan antara kepercayaan dan kehidupan sehari-hari.

Makanya saya sebut kepercayaan sama dengan hidup.

 

Sumber :