Mengejar S3, its a musk

Bismillahirrahmanirrahiim...

Assalamu'alaikum wr wb.

Sahabat midori yang dirahmati Allah SWT, Berikut resume kajian midori yang disampaikan oleh Ust. Topan & Ust. Chandra semalam (18 Oktober 2013).

"Mengejar S3, its a musk!! "


S3 yang dimaksudkan disini adalah :
1. Standardisasi, yaitu standar sebagai seorang muslim, yang tergambarkan di rukun iman dan rukun islam, bagaimana kita bersikap kepada Allah, kepada Rasul-Nya, Al Quran, dan seterusnya. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
"Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah (nawafil) hingga Aku mencintainya..."


Dari sini, dua standar yang penting dimiliki seorang muslim, yaitu :

  • Memegang amalan wajib
  • Gemar melaksanakan amalan sunnah
  • Selain itu, juga, gila ilmu, karena dengan ilmu lah kita bisa beramal dengan benar.
  • Wirid Al-Quran harian. Intinya bagaimana kita memaknai setiap hari/waktu yang diberikan.

2. Spesialisasi.

Setiap orang memiliki potensi dan kelebihan masing-masing, hal inilah yang harus senantiasa kita pupuk, sehingga kita memiliki comparative competitiveness (daya saing komparatif).
Namun, comparative competitiveness saja tidak cukup, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 110,

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ولو آمن أهل الكتاب لكان خيرا لهم منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."

Hal yang lebih penting adalah contributive competitiveness, atau dengan kata lain bagaimana kemampuan yang kita miliki senantiasa bisa memberikan manfaat, yang tidak perlu menunggu jadi ini-itu dan berandai-andai, tapi bisa dimulai dari titik manapun. Hal ini harus dimulai dengan,

  • Syukur, atas segala apa yang telah diberikan Allah kepada kita, dan menyadari adanya tanggung jawab dibalik itu, dan
  • Juhud, yaitu bersungguh-sungguh

 

3. Sinergi
Mengumpulkan recehan, yang dimulai dari kemampuan apresiasi, menghargai orang lain atas tindakannya yang benar terlepas dari apa latar belakangnya.

Ust. Topan juga sedikit bercerita tentang kisah Elon Musk (http://en.wikipedia.org/wiki/Elon_Musk), sosok orang yang mendobrak batasan-batasan inovasi, dengan kesungguhan dan kerja kerasnya.

Sesi kedua pemaparan dari Ust. Chandra tentang keadaan riset di Indonesia yang semakin menjanjikan, dan juga tentang pelaksanaan program pioneer M3.


Wallahu a'lam..

Wassalamu'alaikum wr wb.

Pelayan Midori