Berlomba Pahala dengan Anak-anak

Berlomba Pahala dengan Anak-anak

Oleh Nopriadi Hermani Al-Midori,Ph.D#

Minggu-minggu ini waktu terasa mencekik. Beberapa agenda telah ada di depan mata, berantrian untuk diselesaikan. Di tengah 'tensi' yang meninggi ini tentu emosi harus selalu under control. Allah swt memberi kita kekuatan yang namanya 'Kesadaran' untuk memantau sedang apa pikiran, perasaan dan perbuatan kita. AlhamduliLLah, aku menyadari bahwa semua harus diresponse, dinikmati dan dimaknai lebih positive.

Hari itu Ahad siang, 3 Juni 2012. Di depan komputer aku bekerja sambil ditemani anak-anak yang lagi ribut bukan kepalang. Dengan menyadari bahwa mereka sedang mengekspresikan kebahagiaan dan hidup tanpa beban maka akupun menikmati bekerja sambil ditemani selingan 'musik dan film kegaduhan'. Kalau dipikir-pikir enak juga ya jadi anak-anak! Gak ada deadline thesis, conferense, presentasi,  dan banyak lagi pekerjaan yang kadang menjadi beban orang dewasa. Oh ya, sebenarnya bukan ini yang ingin aku sampaikan.

Ketika waktu sholat tiba, kuajak anak-anak sholat berjamaah. Kami menunaikan sholat Dzuhur bersama. Selepas sholat, seperti biasa bila ada kesempatan, kubuat kajian kecil-kecilan bersama anak-anak. Ini hanya untuk membiasakan mereka bahwa dakwah dan kajian itu adalah hal yang biasa. Sekalian mereka juga biar hafal bagaimana membuka sebuah kajian.Waktu itu kuajarkan mereka betapa mulianya dakwah. Satu hadits yang kusampaikan ke mereka adalah

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [H.R. Muslim].

Tentu dalam bahasa mereka kuberi penjelasan tentang hadits ini. Aku yakin hadits ini akan mampu memberi motivasi mereka untuk berdakwah dan menyuruh pada kebaikan.

Kalau abi nyuruh kalian sholat kemudian kalian sholat maka abi dapat pahala seperti pahala yang kalian dapat ketika sholat, tanpa mengurangi pahala kalian. Bila abi nyuruh kaka Shafa sholat, kemudian kaka shafa sholat maka abi dapat pahala seperti pahala kaka shafa. Kalau abi nyuruh de' Kautsar sholat dan de' kautsar sholat maka abi dapat pahala seperti pahala de' Kautsar.

Mendengar ini mereka bertiga mengatakan,

Ya...enak abi.

Akupun melanjutkan,

Makanya kalau kakak Shafa nyuruh de' Kautsar sholat atau bersih-bersih, kemudian dek Kautsar sholat dan bersih-bersih maka kakak Shafa juga dapat hal yang sama ".

Kemudian dek Kautsar pun protest dengan mengatakan,

Sekarang aku yang dijadikan contoh Bi.

Rupanya si Kecil minta dirinya dijadikan contoh. Maklumlah anak bungsu. He he he.

Ya, bila De' Kautsar ngingatin kaka Shafa dan bang Althof sholat atau ngerjain tugas dari abi-umi maka dek Kautsar akan dapat pahala seperti pahala yang didapat oleh kaka Shafa dan bang Althof"

AlhamduliLLah masing-masing mereka telah diberi tugas khusus oleh uminya, sehingga materi dakwa ini juga dalam rangka membagi wewenang pengawasan pada mereka untuk menunaikan amanahnya masing-masing. Namun ketika mengatakan kalimat ini dalam hatiku terbayang akan ada sedikit 'konflik' yang mungkin akan terjadi. Tapi gak apalah, namanya juga anak-anak. Justru pada setiap konflik kita mendapat peluang untuk memahamkan nilai kebaikan (Islam) kepada mereka.  Kalau hanya sekeder menyampaikan nilai-nilai kebaikan maka itu hanya sebagai 'wacana' yang mudah mereka lupakan. Namun bila mereka mengalaminya maka InsyaAllah mereka akan faham dan akan lebih mendalam penghayatannya.

Kemudian kutekankan pentingnya mengingatkan kebaikan itu dengan cara yang baik. Jadi, penekanannya dengan cara yang baik.  Aku hanya ingin mengantisipasi 'konflik' yang akan terjadi. Namanya juga anak-anak. Kemudian kultum selesai dan kuteruskan pekerjaan.

Selang satu dua  jam kemudian tiba-tiba di dapur aku mendengar si kecil, Kautsar, menangis pilu. Aku bertanya,

kenapa koq menangis?

Dari kejauhan sambil menatap abinya ia  mengatakan,

kalau aku mengingatkan, bang Althof gak mau dengerin. Kalau Abi yang ngingetin bang Althof baru mau melakukan. Aku gak dapat pahala, Abi yang dapat.

He he he ... Namanya juga anak-anak.  Sudah seperti yang kuduga sebelumnya, kejadian seperti ini akan terjadi. Maka aku memanggil Kautsar. Sambil tersedu ia mendekat dan mengatakan,

Aku gak berhasil, Aku gagal.

Serentak aku dan istri tertawa mendengar keluhan Kautsar. Lucu sekali mendengar "Aku gagal".  Dalam hati aku tertawa terpingkal-pingkal' (???).Lho ... He he he ..

Kemudian sambil tersenyum kudekap dek Kautsar,

Begini. De' Kautsar denger Abi ya. Sekarang Abi kasih tau sesuatu. Kalau de' Kautsar memberitahu bang Althof dengan baik-baik kemudian bang Althof gak mau, itu berarti  dek Kautsar sudah dapat pahala. Karena telah menyampaikan kebaikan. Bila bang Althof melakukan, maka de' Kautsar dapat tambahan pahala lagi seperti pahalanya bang Athof.  Nah, kalau ternyata bang Althof tidak nurut dan hanya nurut sama Abi InsyaAllah de' Kautsar tetap dapat pahala.

Aku sangat yakin dengan kalimat ini si Kecil akan merasa terpuaskan. Namun, aku terdiam sejenak. Dalam hati aku bertanya-tanya,

Apa benar penjelasanku? Hmm AlhamduliLLah InsyaAllah benar.

Akupun melanjutkan,

Ya. De' Kautsar khan ngasih tau bang Althof, kemudian Abi nambahin ngasih tau bang Althof, kemudian bang Althof melakukan InsyaAllah de' Kautsar dapat pahala.

Kulihat wajah si kecil Kautsar langsung berubah. Ia tidak terlihat sedih lagi dan kembali bersama abangnya. Dalam hati kecil aku berpikir,

Itulah fitrah anak kecil. Mereka akan melakukan segera apa yang kita ajarkan, terlebih hal-hal kecil yang berbuah besar (pahala dari Allah). Mereka akan sami'na wa ato'na. Mereka lakukan karena ingin mendapat reward pahala dari Allah swt. Mereka tidak memiliki akal yang sempurna, tapi mereka memiliki keinginan yang sempurna untuk mendapat hadiah dari Allah swt.

AlhamduliLLah sampai saat ini, InsyaAllah sampai besar nanti, mereka percaya dengan apa yang diajarkan Abi dan Uminya. AlhamduliLLah mereka juga sangat percaya dengan apa yang Abi dan Uminya sampaikan bahwa surga itu begitu indah dan kita membutuhkan banyak tiket untuk bisa masuk ke sana (dalam surga). Mereka memang tidak bisa langsung mengakses kebenaran yaitu Qur'an dan Hadits terkait surga ini, namun sampai hari ini mereka hanya mempercayakan kebenarannya melalui orang tuanya.  InsyaAllah ketika dewasa nanti mereka akan jauh lebih baik dari Abi dan Uminya dalam mengakses masa depan surga dan neraka melalui hadits dan Qur'an.

Nah, bagaimana dengan kita yang sudah dewasa ini? Sebegitu menggebukah keinginan kita melakukan amal kecil yang berbuah besar pahala dari Allah swt? Kecil di sini dalam artian tidak memerlukan energi, biaya, waktu dan segala aset yang sering kita hitung-hitung bila diberikan pada orang lain. Coba deh kita tanya dalam hati kita masing-masing, apakah lantunan do'a sering kita ucapkan pada setiap amal yang kita lakukan? Masuk dan keluar kamar mandi, sebelum dan sesudah tidur, sebelum dan sesudah makan, apakah do'a selalu kita panjatkan? Apakah kita terbiasa mengucapkan do'a sebelum amal untuk menyicil tiket menuju surga? Belum lagi sholat dhuha, sholat tahajud, sholat rawatib, membaca al qur'an, apakah kita melakukkannya untuk mendapatkan banyak voucher untuk keindahan akherat di surga?

Renungan ini sebenarnya mengingatkan diriku sendiri. Sepertinya aku harus lebih bersemangat dalam berlompa pahala dan tiket menuju surga dibanding dengan anak-anak yang akalnya belum sesempurna diriku yang sudah dewasa.

Semoga  Allah swt membimbing jalan hidupku, keluargaku dan kita semua untuk selalu beramal dan saling mengingatkan.

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu di dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal soleh dan berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran. (Al 'Asr 103: 1-3)

# Alumni Midori, Staf Pengajar Teknik Fisika UGM