Kepemimpinan Gaya Al Faruq

Kepemimpinan Gaya Al Faruq

Sesuatu yang lumrah bagi rakyat biasa, bisa jadi tidak biasa bagi seorang pemimpin.
Pemimpin harus menjadi teladan, sehingga dia harus lebih berhati-hati, jauh lebih berhati-hati daripada rakyat biasa.
Itulah harga yang harus dibayar seorang pemimpin, dan yang dibelinya adalah surga!
Nabi mengatakan tentang 7 golongan yang akan dinaungi Allah di hari pengadilan nanti,
salah satunya adalah Pemimpin Yang Adil.

Tersebutlah kisah Umar bin Khattab dan salah satu putranya.
Umar mendengar berita anaknya sukses beternak kambing dan mendapat banyak keuntungan dari usahanya.
Rupanya khalifah kurang senang mendengar hal tersebut, lalu dia bergegas menemui anaknya.
"Wahai anakku, jualllah kambing-kambingmu, ambil pokoknya, dan untungnya sedekahkan", Umar berkata.
Sang anak rupanya kurang setuju, argumennya:
"Ayah, aku berniaga dengan cara yang halal. Aku membeli kambing, kuternak sampai gemuk lalu kujual"
Umar menjawab:
"Anakku, tidakkah kau tahu bahwa orang-orang yang kau suruh menggembalakan ternakmu selalu mengatakan: "Dahulukan kambing putra khalifah, dahulukan kambing putra khalifah."
Apakah kalau aku tidak menjadi khalifah, kambing-kambingmu akan segemuk sekarang?"

Lalu sang anakpun patuh kepada ayahnya.

Demikianlah potret pemimpin teladan, sesuatu yang boleh bagi orang awam, bisa jadi berat baginya.
Contoh di atas mungkin terlalu ideal, karena kita tak sebaik Umar, dan putra kita pun tidak sesalih putra Umar.
Hanya spiritnya, barangkali bisa jadi teladan. Jangan memakai alasan, apa salahnya kan halal, saja. [Azhari Sn Al-Midori (Alumni Midori), NSK Indonesia]