Mimpi Perubahan itu...Mulai dari Kita!!

Mimpi Perubahan itu...Mulai dari Kita !!

Oleh Wisnu Ananta Kusuma Al-Midori, Dr.Eng*

Apa yang dilakukan Stan Shih pendiri Acer, ketika melihat perusahaan yang didirikannya terancam kebangkrutan? Apakah ia memulai dengan mem-PHK-kan karyawan-2nya seperti biasa dilakukan orang kebanyakan? Tidak ! Dalam bukunya "Me-Too is not My Style", ia menuturkan memulai penyelamatan itu dari diri dan orang-orang terdekatnya. Ia membuat putusan radikal pemotongan gaji karyawan dimulai yang tertingi, yaitu dirinya sampai level menengah. Untuk dirinya sebagai CEO, dia putuskan pemotongan 100%, artinya mulai saat itu ia tidak menerima gaji sepeser pun sampai perusahaanya pulih. Selanjutnya manajer-2 di bawahnya dipotong gajinya 50% dan seterusnya, makin rendah levelnya makin sedikit potongannya. Karyawan tanpa jabatan tidak dipotong sedikitpun. Kebijakan ini membuahkan hasil, alih-alih bangkrut, Acer justru makin berkembang, seperti yang kita lihat sekarang.

12 abad sebelumnya, salah seorang khalifah teladan, Umar bin Abdul Aziz, melakukan pencapaian yang sulit dipercaya. Hanya dalam waktu 2-3 tahun kepemimpinannya, kondisi umat yang tadinya penuh ketimpangan dan kesenjangan antara yang kaya dan miskin berubah menjadi masyarakat yang makmur dan diliputi keadilan sehingga sulit untuk mencari orang-orang yang berhak menerima zakat. Apa yang dilakukan beliau pada masa pemerintahan yang singkat itu? Dalam buku Umar bin Abdul Aziz karangan Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, diceritakan Umar bin Abdul Aziz yang ketika sebelum menjadi khalifah adalah seorang yang kaya, membuat kebijakan radikal yang dimulai dari dirinya sendiri dan dilanjutkan kepada pejabat-pejabat pembantunya. Maka yang beliau lakukan pertama kali adalah mengembalikan hak-hak kepada pemilikknya. Segala hadiah yang dulu ia terima sebelum menjadi khalifah, baik dari negara maupun orang lain, ia kembalikan kepada yang hak. Beliau mengganti barang-barang mewah yang ia miliki menjadi barang biasa (barang-2 perak diganti besi). Hartanya sebelum menjadi khalifah adalah 40 ribu dinar. Ketika wafat hanya meninggalkan 60 dinar, karena beliau tidak pernah mengambil rizki sedikitpun dari Baitul Mal untuk dirinya (pada jaman nabi 1-2 dinar setara dengan seekor kambing, kalau harga kambing skrg 1jt, maka kekayaan beliau sebelum jadi khalifah adalah 40 milyar dan hanya tersisa 60 juta ketika meninggal).

Dengan MEMULAI DARI DIRI SENDIRI DAN LINGKARAN TERDEKATNYA itulah, kedua profil di atas mampu membuat perubahan radikal ke arah kabaikan, kesejahteraan, dan keadilan dalam waktu singkat.

Nah, terkait dengan kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah. Saya tidak tertarik untuk membahasnya, apakah langkah yang tepat atau tidak, apakah harus pro atau kontra. Selain karena tidak faham kalkulasi ekonomi dan politik, saya hanya ingin fokus menyibukkan diri saya untuk belajar dari langkah-langkah dan tindakan-tindakan "MANUSIA YANG BUKAN BIASA", manusia-manusia tipe ini MEMULAI kebijakannya dari DIRINYA, KETAT pada DIRI SENDIRI, tapi MEMUDAHKAN dan EMPATI pada orang lain khususnya masyarakat kecil. Manusia-manusia seperti inilah yang insya Allah mampu membalikkan kesenjangan dan keterpurukan menjadi keadilan dan kegemilangan dalam waktu yang tidak lama. Wallahu 'alam.

* Alumni Midori, Staf Pengajar Ilmu Komputer IPB