Unggul dengan tradisi `best-effort`

Unggul dengan tradisi `best-effort`

Oleh Topan Setiadipura*

"I put everything i know about engineering into that train", begitu yang disampaikan oleh Tadanao Miki ketika mundur dari posisinya sebagai desainer Shinkansen. Akhirnya saat ujicoba 30 Maret 1963 Miki hanya menyaksikan dari layar televisi bahwa shinkansen yang beliau desain mampu melaju dengan kecepatan 256 km/jam menyalip rekor kecepatan kereta tertinggi saat itu yang dipegang oleh Mistral dari Perancis di kecepatan maksimum 160 km/jam. Mulai saat itu, Shinkansen menjadi kebanggaan bangsa Jepang bahkan menjadi salah satu simbol keunggulan Jepang. Dengan mengikuti proses lahirnya Shinkansen maka kita dapat memahami bahwa Shinkansen adalah contoh keberhasilan yang diraih dari sebuah tradisi keunggulan yaitu `best-effort tradition`. Miki adalah salah satu kontributor yang terlibat dari sebuah usaha bersama yang dilandasi tradisi `best-effort`.

Istilah tradisi `best-effort` ini muncul dalam salah satu diskusi pekanan Midori Tokodai jum`at lalu. Saat itu, Dr.Muhammad Aziz mengantarkan tema Peradaban Islam dan usaha untuk kembali mewujudkan dan menampakkan keunggulannya. Salah satu hal yang harus kembali dipraktikan, menurut Asisten Professor di Tokodai ini adalah tradisi `best effort` yaitu tradisi untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan yang kita lakukan atau amanah yang kita emban.

Sebelumnya, dalam Kajian Midori Sangat Spesial #2 tahun 2011, konsep yang sama sempat diangkat dan didiskusikan. Dalam diskusinya tentang Model Pribadi Muslim, salah satu karakter yang harus dimiliki seorang muslim adalah `mutqin` yaitu memiliki sifat itqan yang maknanya serupa dengan `best-effort`. Sebagai seorang muslim yang mengharap cinta Allah rabb semesta alam kita seharusnya termotivasi untuk menerapkan tradisi `best effort` ini. Rasuulullah shalallahu`alaihiwasallam menyampaikan kabar sekaligus motivasi berikut

إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملاً أن يتقنه

"Innallaha yuhibbu idza `amila ahadukum `amalan an yutqinahu"

"Sesungguhnya Allah mencintai ketika seseorang mengerjakan sesuatu, ia ithqan dalam melakukannya".**

Maka diantara langkah nyata untuk mewujudkan kembali peradaban Islam, menampakkan kembali nilai-nilai mulia dan karya-karya unggul yang lahir dari peradaban Islam, adalah dengan mempraktikkan juga mensosialisasikan tradisi best-effort. Alangkah indahnya bila kita bisa mewujudkan tradisi ini, berusaha bersama memberi kontribusi terbaik terhadap semua pekerjaan dan amanah yang kita miliki atas dasar mengejar cinta dari Allah ta`ala. InsyaAllah banyak hal luar biasa bisa kita wujudkan bersama dengan tradisi best-effort.

 

Catatan :

**Hadits ini sampaikan oleh Al Bayhaqi dalam Syu`abul Imaan, As Suyuthi dalam Jami` Ash Shogir. Al Haitsami dalam Majma` Zawaaid menyampaikan hadit ini dari Abu Ya`la dari `Aisyah dimana dalam sanadnya terdapat Mush`ab bin Tsabit yang didho`ifkan riwayatnya oleh mayoritas ulama hadits kecuali Ibnu Hibban.  Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami` karena memperhatikan banyaknya syawaahid (riwayat-riwayat pendukung). Wallahu`alam.

*Mahasiswa Tokodai bidang Teknik Nuklir