Persaudaraan dan Keadilan Universal

Persaudaraan dan Keadilan Universal*

Oleh Muhammad Umar Chapra

(Alih bahasa oleh  Topan Setiadipura#)

 

 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS Al Hujuraat(49):13]

“Tuhan kalian adalah satu, kalian berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah; bangsa Arab tidak memiliki kelebihan terhadap bangsa lain begitupun bangsa berkulit putih terhadap bangsa berkulit hitam kecuali karena ketaqwaannya.”[1]

“Umat manusia berasal dari Adam dan Hawa, dan semua kalian setara sebagai keturunan mereka. Pada hari pembalasan, Allah tidak akan bertanya kepada kalian tentang asal-usul dan garis keturunanmu. Namun yang paling terhormat diantara kalian dihadapan Allah pada hari itu adalah yang paling takwa diantara kalian.” [2]

Islam bertujuan untuk membangun struktur sosial dimana setiap individu disatukan oleh hubungan persaudaraan dan rasa sayang sebagaimana sebuah keluarga yang diciptakan oleh Allah dari sepasang manusia. Persaudaraan ini bersifat universal dan tidak sempit. Persaudaraan ini tidak terikat oleh batas geografi tertentu dan mencakup semua umat manusia bukan hanya keluarga, suku, atau ras tertentu. Al Qur`an menegaskan

“ Katakanlah: ` Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua“ [QS Al A`raaf(7):158]

begitupun Rasulullah menekankan dalam sabdanya:

“Saya telah diutus kepada semua bangsa, berkulit hitam ataupun putih.”[3]

 

Konsekuensi alami dari konsep persaudaraan universal ini adalah adanya saling kerjasama dan tolong menolong. Khususnya antara sesame muslim yang selain terikat satu sama lain sebagai umat manusia karena kesamaan asal-usul, juga terikat oleh kesamaan ideology, dan disifatkan dalam Al Qur`an sebagai `saudara seagama`, dan `saling menyayangi diantara mereka` dalam ayat-ayat berikut

 

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” [QS At Taubah(9):11][4]

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka.” [QS Al Fath(48):29]

Rasulullah pun menekankan hubungan ini dalam hadits-hadits berikut

“Umat manusia adalah keluarga Allah, dan yang paling dicintai diantara mereka oleh Allah adalah yang paling baik terhadap keluarga-Nya”[5]

“Berilah kasing sayang kepada makhluk yang ada di bumi, maka Allah yang berada di langit akan menyayangimu”[6]

“Dalam saling menyayangi, cinta, dan kebaikan kalian akan dapati orang-orang beriman layaknya sebuah tubuh, bila satu bagian merasa sakit, seluruh tubuh akan juga merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam”[7]

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya; ia tidak menyakitinya, mengabaikannya tanpa pertolongan, juga menghinanya”[8]

Konsep persaudaraan ini terikat erat dan tak dapat dipisahkan dari penekanan Islam terhadap prinsip keadilan. Menegakkan keadilan di bumi ditegaskan dalam Al Qur`an sebagai salah satu tujuan utama dari ajaran para nabi Allah termasuk Muhammad.

“ Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan“ [QS Al Hadiid(57):25]

Keimanan yang tercampur dengan ketidakadilan (kezaliman) tidak akan diakui oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur`an berikut

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” [QS Al An`aam(6):82]

Oleh karena itu, seorang muslim tidak hanya dimotivasi namun terus-menerus didorong oleh Al Qur`an untuk menegakkan keadilan.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” [QS Al Nahl(16):90]

“ …dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” [QS An Nisaa(4):58]

Prinsip keadilan memiliki tempat yang sangat penting dalam Islam, sehingga untuk memiliki sifat dasar seorang muslim yaitu menjadi saleh dan bertaqwa seseorang harus berlaku adil. Sebagaiman dikatakan dalam Al Qur`an berikut

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kamu, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ” [QS Al Maaidah(5):8]

Lebih lagi, prinsip keadilan tetap harus dilaksanakan meskipun hal itu merugikan kepentingan sendiri atau kepentingan kerabatnya.

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu)” [QS Al An`aam(6):152]

“Wahai orang-orang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” [QS An Nisaa(4):135]

Implikasi dari prinsip keadilan dalam Islam akan menjadi lebih jelas dalam pembahasan keadilan sosial dan ekonomi berikut

Keadilan Sosial

Karena Islam menganggap umat manusia sebagi satu keluarga, semua anggota keluarga ini setara dimata Allah juga dihadapan hukum yang dikeluarkan oleh Allah. Tidak ada bedanya antara kaya dan miskin, berkedudukan tinggi dan rendah, atau antara berkulit hitam dan putih. Tidak boleh ada diskriminasi karena perbedaan ras, warna kulit, atau posisi. Satu-satunya kriteria seseorang adalah karakter, kemampuan, dan baktinya terhadap kemanusiaan. Rasulullah bersabda

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan juga kekayaanmu, namun Allah melihat hati dan perbuatanmu”[9]

“ Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik akhlaknya”[10]

Lebih tegas lagi, Rasulullah memberi peringatan terhadap kehancuran yang bakal terjadi terhadap pribadi dan bangsa sebagai konsekuensi dari diskriminasi dan ketidakadilan dalam penegakkan hukum.

“Umat sebelum kalian hancur karena ketika orang berkedudukan tinggi melakukan pencurian mereka dibebaskan, namun ketika orang tak berkedudukan melakukan pencurian maka hukum ditegakkan atas mereka. Demi Allah, bahkan seandainya Fatimah putri Muhammad melakukan pencurian, maka Muhammad akan memotong tangannya”[11]

“Barang siapa menghina atau merendahkan seorang muslim, laki-laki ataupun wanita, karena kemiskinan atau kekurangan hartanya, maka ia akan dihinakan oleh Allah pada hari pembalasan”[12]

Umar bin Khattab, Khalifah kedua, menulis surat kepada Abu Musa al Ash`ari, salah satu gubernurnya, meminta beliau untuk `memperlakukan semua orang secara setara dalam kehormatan dihadapan kamu sehingga yang lemah tidak putus asa untuk mendapatkan keadilan darimu dan orang-orang berkedudukan tidak berharap mendapatkan keberuntungan yang tidak layak`[13] Semangat keadilan sosial ini, yang benar-benar mewarnai masyarakat muslim dalam periode empat khalifah pertama juga periode setelahnya meskipun terdapat sedikit penyimpangan, telah berhasil dilaksanakan secara nyata dalam berbagai kesempatan. Terkait hal ini, misalnya juga apa yang ditulis oleh ahli hukum terkenal, Abu Yusuf, kepada Khalifa Harun Al Rashid : ` Perlakukanlah semua orang setara tidak peduli apakah ia dekat atau jauh denganmu`, juga beliau menulis `kesejahteraan rakyat yang kau Pimpin bergantung kepada penegakkan hukum Ilahi dan penghapusan ketidakadilan`.[14]

Keadilan Ekonomi

Konsep persaudaraan dan perlakuan setara semua individu dalam masyarakat dan dihadapan hukum tidak akan berarti kecuali diiringi dengan keadilan ekonomi dimana setiap orang mendapatkan imbalan atas kontribusinya bagi masyarakat atau munculnya produk sosial, juga tidak adanya eksploitasi seseorang oleh yang lainnya. Al Qur`an mendorong muslim untuk menjaga hal ini.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya” [QS Asy Syua`raa (26):183][15]

Hal ini berimplikasi bahwa semua individu harus mendapatkan apa yang menjadi hak nya tanpa mengurangi bagian orang lain. Rasulullah dengan tepat mengingatkan

“Hati-hatilah terhadap ketidakadilan, karena ketidakadilan adalah kegelapan di hari pembalasan”[16]

Peringatan terhadap ketidakadilan dan ekspolitasi didesain untuk melindungi hak setiap individu dalam masyarakat (baik konsumen ataupun produsen dan distributor, baik pekerja atau yang mempekerjakan), juga untuk memajukan kesejahteraan umum, yang merupakan tujuan utama Islam.

Diantara hal yang penting dalam hal ini adalah hubungan antara majikan dan pekerja dimana Islam menempatkannya dalam hubungan yang tepat. Juga memberikan aturan bagi hubungan timbal balik keduanya untuk mewujudkan keadilan antara mereka. Seorang pekerja berhak untuk mendapatkan upah yang adil atas kontribusinya terhadap keluaran dan adalah berlawanan dengan hukum bagi seorang majikan muslim untuk mengeksploitasi pekerjanya. Rasulullah mempersaksikan bahwa tiga orang yang akan menghadap Allah dalam keadaan merugi pada hari pembalasan, yaitu: ia yang meninggal tanpa memenuhi kewajibannya terhadap Allah, ia yang menjual seorang yang merdeka dan menikmati uang penjualannya, dan ia yang mempekerjakan seseorang menerima jasa pekerjaan darinya namun tidak membayar upahnya.[17] Hadits ini menyamakan eksploitasi terhadap pekerja dengan memperbudak seorang yang merdeka menunjukkan bagaimana Islam begitu tegas melarang eksploitasi terhadap pekerja.

Bagaimana standar upah yang `adil` dan juga batasan-batasan yang menunjukkan eksploitasi terhadap pekerja perlu ditentukan lebih lanjut berdasarkan ajaran Al Qur`an dan As Sunnah.[18] Islam tidak mengenal kontribusi terhadap keluaran oleh faktor produksi selain pekerja, karena itu konsep eksploitasi pekerja dalam Islam tidak akan terkait dengan konsep surplus yang diajukan oleh Marx. Secara teori dapat dikatakan bahwa upah yang adil haruslah setara dengan nilai kontribusi terhadap keluaran yang dibuat oleh pekerja. Namun hal ini sulit untuk ditentukan dan nilai praktisnya kecil dalam pengaturan upah. Namun terdapat beberapa hadits yang darinya dapat diambil petunjuk kualitatif nilai upah minimum dan ideal. Menurut Rasulullah, seorang pekerja (pria ataupun wanita) mendapat hak setidaknya makanan dan pakaian yang mencukupi, dan hanya dibebani dengan pekerjaan yang mampu ia lakukan.[19]Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa upah minimum haruslah mencukupi pekerja untuk mendapatkan makanan dan pakaian yang mencukupi untuk dirinya dan keluarga tanpa membebani dirinya secara berlebihan dalam pekerjaan. Hal ini dipandang oleh para sahabat Rasulullah sebagai syarat minimum bahkan untuk dapat menjaga standar spiritual masyarakat muslim. Telah diriwayatkan bahwa `Utsman, khalifah ketiga, berkata

“Jangan berlebihan dalam membebani pekerja wanita terampil mu dalam usahanya mendapatkan penghidupan, karena bila kalian melakukannya, ia akan melakukan hal-hal yang tak bermoral. Dan jangan pula membebani secara berlebihan pekerja pria mu, karena bila kalian mengerjakannya ia akan melakukan pencurian. Berilah perhatian pekerjamu, maka Allah akan memberimu perhatian. Adalah kewajiban bagimu untuk menyediakan bagi mereka makanan yang baik dan halal.”[20]

Upah ideal dapat pula disimpulkan dari hadits beriku yaitu upah yang membuat pekerja mampu untuk memakan makanan dan mengenakan pakaian sebagaimana majikan.

“Pekerja kalian adalah saudara kalian yang telah Allah jadikan sebagai bawahan kalian. Maka barang siapa yang memiliki saudaranya sebagai bawahan hendaknya ia memberinya makan dengan apa yang ia makan dan memakaikannya pakaian yang ia pakai…”[21]

Upah yang adil haruslah diatas upah minimum tersebut. Nilainya diharapkan bisa mendekati upah ideal. Hal ini untuk meminimalkan perbedaan penghasilan dan untuk menjembatani jurang antara kondisi kehidupan para pekerja dan majikan yang cenderung melahirkan dua kelas yang berbeda yaitu kelas `mampu` dan ` tidak mampu`. Adanya dua kelas berbeda ini akan melemahkan ikatan persaudaraan yang merupakan sifat mendasar dari masyarakat muslim. Diantara nilai upah minimum dan ideal tersebut, nilai upah sesungguhnya ditentukan oleh interaksi antara suplai dan permintaan, tingkat perkembangan ekonomi, tingkat kesadaran moral dalam masyarakat muslim, dan sejauh mana pemerintah memainkan perannya.

Selain dibayar, setidaknya dengan upah minium ataupun upah ideal, Islam pun mengajarkan agar para pekerja tidak dipekerjakan terlalu berat atau dalam kondisi yang menyedihkan sehingga kesehatan mereka memburuk atau kemampuan mereka untuk menikmati penghasilan atau menjalani kehidupan berkeluarga terganggu.[22]Jika mereka ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan yang diluar kemampuan, maka mereka harus mendapatkan pertolongan yang memadai sehingga mereka bisa mengerjakan tugas tersebut tanpa kesulitan yang berlebihan. Pada hadits sebelumnya dimana Rasulullah menasihati majikan agar memperlakukan pekerja layaknya saudara, Rasulullah lebih jauh mengatakan

“…dan jangan membebani mereka dengan apa yang melebihi kemampuan mereka. Jika memang begitu, maka kalian harus menolong mereka”[23]

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa penetapan jam kerja maksimum, penciptaan kondisi kerja yang baik, dan dilaksanakannya usaha pencegahan terhadap kecelakaan kerja, sanga sesuai dengan semangat ajaran Islam.

Sementara hal-hal diatas adalah perlakuan yang harus dilakukan oleh majikan terhadap pekerja, karena komitmen Islam terhadap keadilan maka Islam pun melindungi majikan dengan memberikan kewajiban moral kepada para pekerja. Kewajiban pertama adalah untuk mengerjakan pekerjaan dengan hati-hati dan rajin dengan perhatian dan kemampuan yang semaksimal mungkin. Rasulullah memberi nasihat dalam hal ini

“Allah telah menjadikan kemurahan hati sebagai kewajiban bagimu”[24]

“Allah mencintai ketika seseorang mengerjakan pekerjaan, dimana ia mengerjakannya dengan sempurna”[25]

Tak perlu ditanyakan lagi bahwa keadilan sosial dan ekonomi yang dengan jelas ditekankan oleh Islam juga menginginkan seorang muslim memiliki performa yang efisien dalam menjalankan fungsi yang menjadi bagian dari pekerjaannya. Dalam kesempatan lain, Rasulullah berkata

“Seorang pekerja yang unggul dalam pengabdiannya kepada Allah serta menjalankan bagi majikannya apa yang telah menjadi tugasnya, dengan tulus dan taat maka bagi mereka Allah menyediakan dua ganjaran”[26]

Kewajiban kedua bagi pekerja adalah jujur dan amanah. Dalam Al Qur`an Allah mengatakan bahwa seorang pekerja terbaikadalah yang kuat (mampu) serta jujur dan amanah.

“…sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” [QS Al Qashash(28):26]

Rasulullah pun bersabda tentang hal ini

“Dia yang telah kami pekerjakan untuk suatu tugas dan telah diberikan penghidupannya, maka apa yang ia ambil melebihi hal tersebut adalah kejahatan”[27]

Dari bahasan diatas terlihat bagaimana di satu sisi Islam menetapkan kewajiban-kewajiban terhadap majikan, di sisi lain Islam pun menekankan kepada pekerja untuk melakukan pekerjaannya dengan hati-hati dan rajin, serta dengan kejujuran dan amanah. Tujuannya adalah untuk menegakkan keadilan bagi kedua belah pihak dalam semua hubungan ekonomi. Dengan itu, Islam membangun suatu aturan yang harmonis terhadap tanggung jawab dua arah yang menekankan kerjasama dan pemenuhan masing-masing kewajiban secara hati-hati dalam lingkungan yang penuh dengan persaudaraan, keadilan, juga supremasi nilai moral. Dengan sistem aturan seperti itu konflik dan gesekan antara pekerja dan majikan dapat dihilangkan dan terwujud ketentraman industri.



[1] Perkataan Nabi Muhammad dinukil dari al-Tabrani dalam Majma` al-zawaid, v.8, h.84; nukilan diatas adalah gabungan dua hadits.

[2] Ibnu Katsir, Tafsir, v.4, h.218, lihat tafsir ayat ke-13 surat Al Hujurat(49).

[3] Shaatibii al-Muwaafiqaat fii Usuul al-Sharii`ah, Kairo, n.d, v.2, h.244, dari Bukhari, Muslim, dan Nasaa`i.

[4] lihat juga Al Qur`an Surat Al Ahzab(33):5, Al Hujuraat(49):10

[5] Mishkaat, v.2, h.613: 4998, dari Shu`ab al-Imaan karya Bayhaqi

[6] Ibid., 608: 4969, dari Abu Dawud dan Tirmidzi

[7] Bukhari, v.8, h.12; dan Muslim, v.4, p.1999:66, lihat juga hadits no.65 dan 67.

[8] Muslim,v.4, h.1986:32

[9] Muslim, v.4, h.1987: 34

[10] Bukhari, v.8, h.15

[11] Ibid., h.199; dan Nasaa`I, v.8, h.65.

[12] Musnad Imam Ali al-Rida, Beirut, 1966, h.474

[13] Abu Yusuf, Kitab al-Kharaaj, Kairo, 1367 A.H.

[14] Abu Yusuf, h. 4 dan 6.

[15] Lihat juga QS Al Muthoffifin(83):1-3 (“ Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) Orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”)

[16] Disampaikan oleh Suyuti, v.1, h.8 dari Musnad Ahmad dan Shu`ab al-iiman karya Bayhaqi

[17] Bukhari, v.3, h.112.

[18] Sebagian nukilan (hadits atau lainnya) yang digunakan dalam diskusi ini berkaitan dengan hamba sahaya, namun istilah `pekerja` digunakan dalam translasi nukilan tersebut. Apabila perlakuan yang manusiawi dan adil diharapkan diterapkan terhadap hamba sahaya, maka tentunya seorang pekerja memiliki hak untuk mendapat perlakuan yang lebih baik.

[19] Maalik Muwattaa Kairo, 1951, Malik, v.2, h.980: 40

[20] Maalik Muwatta, v.2, h.981: 42

[21] Bukhari, h.15, dan v.3, h.185; dan Muslim, v.3, h.1283: 38

[22] “Aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik” [QS Al Qashash(28);27]. Pernyataan Syu`aib ketika mempekerjakan Musa adalah nasihat dari Al Qur`an buat semua majikan.

[23] Bukhari, v.1, h.16, dan v.3, h.185; dan Muslim v.3, h.1283: 38 dan 40

[24] Muslim, v.3, h.1548: 57

[25] Dinukil dari Syu`ab al-imaan karya Bayhaqi oleh Suyuuti, v.1, h.75

[26] Bukhari, v.3, h.186

[27] Abu Dawud, v.2, h.121

 

*Bagian dari buku Objectives of the Islamic Economic Order oleh Dr.M.U Chapra.

# Mahasiswa Tokodai bidang Teknik Nuklir