Kesejahteraan Ekonomi dan Nilai Moral Islam

Kesejahteraan Ekonomi dan Nilai Moral Islam

Oleh Muhammad Umar Chapra

(Alih bahasa oleh Topan Setiadipura*)

“Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [QS Al Baqarah(2):60]

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan “[QS Al Baqarah(2):168]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” [QS Al Maidah(5):87-88]

 

Ayat-ayat Al Qur`an diatas, serta banyak ayat lainnya[1], menyampaikan kunci dari pesan Al Qur`an dalam bidang ekonomi. Islam mengajarkan seorang muslim untuk menikmati dan memanfaatkan anugerah yang disediakan oleh Allah. Islam tidak menetapkan batas kuantitatif tertentu dalam perkembangan kekayaan material suatu masyarakat muslim. Bahkan, Islam menilai usaha manusia untuk memperoleh kesejahteraan material sebagai tindakan terpuji.

 

“ Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [QS Al Jumu`ah(62):10]

Apabila Allah memberikan kepada siapapun diantara kalian kesempatan untuk mendapatkan penghidupan, janganlah ia mengabaikannya hingga usang atau tidak sesuai lagi baginya.[2]

Setiap muslim yang menanam pohon atau memupuk sebuah ladang sehingga seekor burung, manusia, atau hewan dapat memakan darinya, maka hal tersebut akan menjadi sedekah baginya.[3]

Siapa yang mencari dunia dengan cara yang benar untuk menjaga dirinya dari meminta-minta, menafkahi keluarganya, dan berbuat baik bagi tetangganya, maka ia akan bertemu dengan Allah dengan wajah yang bercahaya layaknya bulan purnama.[4]

Tidak hanya memandang aktivitas tersebut terpuji, lebih jauh, Islam mendorong manusia untuk dapat menguasai dunia ini. Hal ini berdasarkan firman Allah bahwa semua sumber daya alam yang ada di langit dan bumi telah diciptakan untuk kebaikan umat manusia.[5] Juga berdasarkan perkataan Rasulullah, “ tidak ada penyakit kecuali Allah menciptakan obatnya”.[6] Dari hal-hal tersebut, dapat difahami bahwa tujuan untuk memperoleh pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu tujuan ekonomi masyarakat muslim. Tujuan itu akan terwujud menjadi tindakan nyata untuk melakukan usaha berkelanjutan dalam pemanfaatan sumber daya yang telah disediakan oleh Allah untuk pelayanan dan perbaikan umat manusia, misalnya melalui riset dan pengembangan teknologi. Hal itu membantu tercapainya tujuan penciptaan manusia yaitu untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi ini.

Islam melarang meminta-minta dan mendorong seorang muslim untuk mendapatkan penghidupannya.[7] Dari pernyataan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa diantara tujuan ekonomi dari masyarakat muslim adalah untuk menciptakan lingkungan ekonomi dimana orang-orang yang mampu dan mencari pekerjaan dapat memperoleh pekerjaan yang layak baginya sesuai dengan kemampuan mereka. Apabila hal ini tidak tercapai, maka masyarakat muslim tidak dapat dikatakan berhasil bahkan dilihat dari tujuan spiritual sekalipun. Karena para pengangguran tersebut akan mengalami kehidupan yang susah sehingga mereka bergantung pada sedekah orang lain, meminta-minta, atau melakukan tindakan kejahatan. Semua itu, terutama dua tindakan terakhir, berlawanan dengan semangat ajaran Islam.

Penekanan ajaran Islam terhadap kesejahteraan ekonomi bermuara pada karakter awal nilai-nilai Islam itu sendiri. Allah menjadikan Islam sebagai rahmat bagi umat manusia. Islam bertujuan untuk memperkaya kehidupan manusia bukan untuk mensengsarakan, atau membuatnya penuh masalah dan kesulitan.

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” [QS Al Anbiya(21):107]

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS Yunus(10):57]

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [QS Al Baqarah(2):185]

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” [QS An Nisaa(4):28]

“…Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyepurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” [QS Al Maa-idah(5):6]

Berdasarkan ayat-ayat Qur`an diatas, para ahli hukum Islam telah sepakat bahwa menjaga kepentingan masyarakat dan membantu mereka untuk mengatasi kesulitan adalah diantara tujuan dasar dari ajaran Islam, syari`ah.[8] Ghazali, seorang filsuf dan pembaharu berpendapat bahwa tujuan utama dari syari`at adalah untuk memajukan kesejahteraan masyarakat yaitu dengan menjaga keyakinan, kehidupan, intelektualitas, kemakmuran, dan kepemilikan mereka; Oleh karenanya aktivitas apapun yang menjamin terjaganya lima hal tersebut merupakan pelayanan terhadap kepentingan umum dan hal itu dianjurkan dalam ajaran Islam.[9] Ibnu Qayyim menekankan bahwa landasan syari`at Islam adalah kebijaksanaan dan kesejahteraan masyarakat di dunia dan akhirat; apapun yang keluar dari keadilan menuju penganiayaan, dari kasih saying menjadi kekerasan, dari kesejahteraan menjadi kesengsaraan, dan dari kebijaksanaan menjadi kebodohan bukanlah bagian dari syariah.[10]

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kesejahteraan hidupnya, sangat mungkin seorang muslim menjadi ekstrem dalam hal ini dan menjadikan kesejahteraan material sebagai satu-satunya tujuan dengan mengabaikan nilai-nilai spiritual, memperoleh kekayaan dari jalan yang tidak benar, mengeksploitasi orang lain, memperlakukan mereka dengan tidak benar dan tanpa keadilan, juga tidak mempromosikan kebaikan orang lain yang telah ia manfaatkan. Oleh karena itu, karena Islam pun bertujuan untuk meraih kehidupan yang suci, dalam A Qur`an terdapat peringatan bagi seorang muslim terhadap bahaya ini.

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”[QS Al Jumu`ah(62):10]

Secara umum, difahami oleh para ulama muslim bahwa makna `ingatlah Allah banyak-banyak` tidak berarti menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengerjakan sembahyang atau membaca dzikir saja, namun bermakna untuk menjalani hidup secara lebih bertanggung jawab berdasarkan nilai-niai Islam,[11] memperoleh kekayaan hanya dengan jalan yang benar dan mengabaikan jalan lain yang tidak benar,[12]. Juga menganggap bahwa kekayaan sebagai amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya, sebagaimana firman Allah

“Berimanlah kamu kepada Allah da Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya…” .[QS Al Hadiid(57):7]

Dalam konteks ini kita lebih mudah memahami ayat-ayat Al Qur`an juga hadits-hadits yang menekankan bahwa urusan dunia dan kepemilikan duniawi adalah hal yang sepele.[13] Maksud dari `sepele` dalam Al Qur`an dan Hadits bukanlah dalam makna absolut namun dalam kaitannya dengan nilai-nilai spiritual. Bila kepemilikan duniawi dapat dicapai tanpa mengorbankan idealisme terhadap nilai-nilai spiritual maka kepemilikan duniawi tersebut tidak harus ditinggalkan. Sebagaimana perkataan Rasulullah “Tidak ada salahnya memiliki kekayaan bagi orang-orang yang takut kepada Allah”.[14] Namun bila ada konflik antara keduanya, dimana kepemilikan duniawi hanya diperoleh dengan cara yang bertentangan dengan nilai-nilai spiritual, maka seseorang harus merasa puas dengan apa-apa yang bisa diperoleh dengan jalan yang benar meskipun lebih sedikit. Sebagaimana diajarkan dalam Al Qur`an

“Katakanlah: `Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.`” [QS Al Maa-idah(5):100]

Seseorang yang lebih mementingkan nilai-nilai Islam yang abadi dibandingkan kenikmatan duniawi tidak akan ragu untuk melakukan pengorbangan ini karena ia memahami dengan baik perkataan Rasulullah berikut

“ Kecintaan terhadap dunia adalah sumber dari semua kejahatan”[15]

“Ia yang mencintai dunia maka ia merusak akhiratnya, dan ia yang mencintai akhirat akan menerima kekurangan di dunia; maka utamakanlah (akhirat) yang kekal terhadap (dunia) yang fana”[16]

Hal ini menjelaskan bagaimana Islam menciptakan harmoni antara aspek material dan spiritual dengan mendorong umat Islam agar berusaha mendapatkan kesejahteraan material, tetapi menekankan secara bersamaan agar mereka menempatkan usaha tersebut diatas pondasi moral yang menjadi orientasi spiritual dalam usahanya itu.

“ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [QS Al Qashash(28):77]

“Muslim yang terbaik adalah ia yang memberi perhatian terhadap urusan dunia juga kepada urusan akhirat”[17]

“Bukanlah yang terbaik diantaramu orang yang meninggalkan dunia ini karena akhirat atau ia yang mengabaikan akhirat karena dunia; yang terbaik diantaramu adalah yang memperhatikan kebaikan dari dunia ini juga di hari akhirat.” [18]

Penekanan yang simultan terhadap aspek material dan spiritual kehidupan merupakan karakter unik dari sistem ekonomi Islam. Aspek spritual dan material terhubung erat satu sama lain dan keduanya menjadi sumber kekuatan dan berkontribusi bagi tercapainya kesejahteraan manusia yang hakiki. Pengabaian terhadap salah satu aspek ini tidak akan membawa umat manusia kepada kesehteraan yang sebenarnya. Bila hanya kesejahteraan material yang dijaga sementara keberadaan penyimpangan moral dan nilai-nilai dibiarkan, maka akan terjadi fenomena kerusakan seperti munculnya kasus frustasi, kejahatan, ketergantungan terhadap alkohol, perzinahan, perceraian, penyakit mental, juga bunuh diri. Semua itu menunjukkan kurangnya kebahagiaan jiwa dalam kehidupan yang mereka jalani. Sebaliknya, bila hanya keperluan spiritual yang dijaga, banyak orang akan memandang bahwa ajaran agama tidak realistik dan tidak bisa dilaksanakan. Hal ini akan melahirkan dikotomi dan konflik antara aspek material dan nilai-nilai spiritual yang dapat mengancam hancurnya semua nilai-nilai kebaikan di masyarakat.

Perpaduan antara material dan spiritual ini adalah sesuatu yang hilang pada dua sistem ekonomi lainnya yaitu kapitalisme dan sosialisme, dimana keduanya pada dasarnya bersifat sekular juga neutral secara moral. Tak seorang pun dapat mengelak kesuksesan kapitalisme dalam meraih tefisiensi mesin-mesin produksi dan standar kehidupan, begitupun pencapaian sistem sosialis terkait laju pertumbuhan ekonomi. Namun kapitalis dan sosialis, keduanya, telah mengabaikan kebutuhan spiritual manusia.


[1]Simak Al Baqarah(2):172, Al An-aam(6):142, Al A`raaf(7):31,160, An Nahl(16):114, Thahaa(20):81, Al Mu`minuun(23):51, Saba`(34):15, dan Al Mulk(67):15

[2] Ibnu Majah, Kairo, 1952, v.2 p.727:2148

[3] Bukhari, v.3 p.128; Muslim, v.3,p.1189:12; dan Tirmidzi, v.3, p.666:1382

[4] Dikutip dari Shu`abul Iman oleh Bayhaqi dalam Mishkaat, Damaskus, 1381, A.D., v.2, p.658:5207

[5] Dalam Al Qur`an, “ Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. [QS Luqman(31):20] Juga terdapat banyak ayat Al Qur`an lainnya dengan makna yang sama, misalnya: QS Ibrahim(14):32-33, An Nahl(16):12-14, Al Hajj(22):65, Al Jaatsiyah(45):12.

[6] Bukhari, v.7, p.158; dan Ibnu Maajah, v.2, p.1138:3439

[7] `Janganlah mengemis apapun dari manusia` (Abu Dawud, Kairo, 1952, v.1, p.382), `Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah` (Bukhari, v.2, p.133 dan Nasaa`I, v.5, p.45-46); ‘ Pendapatan terbaik seseorang adalah apa yang ia dapatkan melalui usahanya sendiri` (Ibnu Maajah, v.2, p.723:2138; dan Nasaa`I, Kairo, 1964, v.7, p.212)

[8] LIhat Abu Zahrah Usuul al-Fiqh, Damaskus, 1957, p.355

[9] M.Ghazi al-Mustasfa Kairo, 1937, v.1, pp.139-140.

[10] Ibnu Qayyim I`laam al-Muwaqqi`in, Kairo, 1955

[11] Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat diatas, berkata: ` Mengingat Allah banyak-banyak` berarti bahwa `Ketika menjual atau membeli, mengambil atau memberi, kamu harus banyak mengingat Allah sehingga usaha duniawi tersebut tidak menyebabkan kamu melupakan apa yang menguntungkanmu di hari akhirat`, Tafsir v.4, p.367.

[12] Rasulullah bersabda: ` Takwalah pada Allah dan seimbanglah dalam usahamu mencari dunia; ambillah apa yang diperbolehkan dan tinggalkan apa yang dilarang`. Ibnu Maajah, v.2, p.725, 2144.

[13] `Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa` [QS An Nisaa(4):77]. Lihat juga, Al `Ankabut(29):64, Al Hadiid(57):20-21.

`Hiduplah di dunia layaknya orang asing atau orang yang menempuh perjalanan, dan anggaplah seakan kamu bersama orang-orang di kubur` (Ibnu Maajah, v.2, p.1378: 4114).

`Bagaimana perbandingan dunia terhadap hari akhirat ? Celupkanlah jarimu di lautan dan lihatlah apa yang kamu dapatkan pada jarimu` (Mishkat, v.2, p.648: 5156, dari Imam Muslim)

`Zuhudlah dunia maka Allah akan mencintaimu, jagalah dirimu dari apa yang dimiliki manusia maka mereka akan mencintaimu.` (Ibid., v.2, p.654: 5187, dari Tirmidzi dan Ibnu Maajah).

[14] Bukhari, p.113: 301

[15] Dinukil dari Shu`ab al-iman karya Bayhaqi dalam Mishkat, v.2, p.659: 5213

[16] Musnad Ahmad bin Hambal, dinukil dalam Ibid., v.2, p.652: 5179

[17] Ibnu Maajah, v.2, p.725: 2143

[18] Diriwayatkan dari Maaiwardi, p.117; juga dinukil dari Ibnu `Asakir, dengan sedikit perubahan, oleh Suyuuthi dalam al-Jaami` al-Saghir, v.2, p.135.

*Mahasiswa Tokodai bidang Teknik Nuklir