Tujuan Ekonomi Islam (Pengantar)

Tujuan Ekonomi Islam

Oleh Muhammad Umar Chapra

(Alih bahasa oleh Topan Setiadipura*)

 

Islam bukanlah agama yang mengajarkan kerahiban[1]. Islam tidak hadir untuk menjauhkan manusia dari berbagai anugerah dan kenikmatan yang telah Allah, Tuhan semesta alam, berikan. Tentang ini Allah berfirman

"Katakanlah: ""Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?"…" [QS Al A`raf (7) : 32]

Islam tidak melihat manusia sebagai makhluk terhina karena dosa yang ia bawa sejak lahir, namun dalam pandangan Islam manusia adalah makhluk yang terhormat sebagai khalifah atau wakil Allah ta`ala dimuka bumi ini. Tentang penciptaan manusia pertama , Allah ta`ala berfirman

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” [QS Al Baqarah(2):30]

 

Dimana untuk menjalankan peran ke-khalifahan itulah Allah menyediakan segala sesuatu di bumi ini.

 

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [QS Al Baqarah(2):29]

Sehingga dalam ajaran Islam, kebaikan atau keberhasilan seorang manusia tidak dilihat dari bagaimana ia menutup dirinya terhadap anugerah yang telah disediakan oleh Allah, namun pada kemampuan untuk menikmati dan memanfaatkannya dalam kerangka nilai-nilai kehidupan yang benar. Melalui nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya, Islam bertujuan memajukan kesejahteraan manusia.

Nilai-nilai kehidupan yang benar yang diajarkan dalam Islam mencakup semua aktivitas kehidupan manusia. Dalam Islam, tidak ada aktivitas kehidupan yang secara total hanya bersifat duniawi. Semua tindakan dalam aktivitas apapun, termasuk aktivitas ekonomi, dapat memiliki nilai spiritual selama tindakan tersebut selaras dengan tujuan dan nilai-nilai Islam. Dalam masalah ekonomi, tujuan dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam inilah yang menentukan sifat serta bentuk sistem ekonomi Islam.

Oleh karena itu, pemahaman yang baik terhadap tujuan dan nilai-nilai dasar dari ajaran Islam sangat penting untuk dapat memahami sistem ekonomi Islam. Tujuan dan nilai-nilai tersebut diantaranya adalah

1. Kesejahteraan ekonomi dalam kerangka nilai-nilai moral Islam

2. Persaudaraan dan Keadilan universal

3. Distribusi pendapatan yang adil

4. Kebebasan Individu dalam konteks kesejakteraan sosial.

Tujuan dan nilai-nilai Islam tidaklah terbatas pada hal-hal yang disebutkan diatas. Namun hal-hal diatas diharapkan cukup untuk menjadi acuan dalam usaha memahami lebih jauh tentang sistem ekonomi Islam. Hal-hal diatas juga diharapkan mencukupi untuk dapat melihat karakteristik pembeda antara sistem ekonomi Islam dengan dua sistem lain yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.


[1] Allah berfirman “…Dan mereka mengadakan kerahiban padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka [QS Al Hadid(57):27]

Suatu saat setelah Rasulullah shallallahu`alaihiwasallam menyampaikan pelajaran bahwa Hari Pembalasan pasti datang dimana tiap manusia akan bertanggung jawab dihadapan Allah, sebagian sahabat berkumpul dirumah `Utsman bin Maz`un. Lalu mereka bertekad untuk malaksanakan puasa setiap hari, melaksanakan sholat setiap malam dan tidak tidur, tidak memakan daging dan lemak, tidak menikah, tidak memakai wewangian, hanya menggunakan pakaian yang kasar, dan secara umum mereka bertekad untuk menolak kenikmatan-kenikmatan dunia. Lalu Rasulullah shallallahu`alaihiwasallam mendengar hal ini dan berkata kepada mereka :

“ Saya tidak diperintah oleh Allah untuk hidup dengan cara seperti itu. Tubuh kamu memiliki hal atasmu, karenanya berpuasalah namun juga meninggalkannya di hari lain, sholatlah dimalam hari namun luangkan pula waktu untuk tidur. Lihatlah saya, saya sholat dan juga tidur di malam hari, saya berpuasa namun juga meninggalkannya di sebagian hari, saya memakan daging dan lemak, dan saya pun menikah. Maka barangsiapa berpaling dari ajaranku bukanlah bagian dari ummatku. “(Simak komentar terhadap QS Al Maidah85) :87 dalam Al Kashshaf, Beirut, 1947, v1, p.67; dan Tafsir Al Qur`an Al Azhim oleh Ibnu Katsir, Cairo, 1955 v.2, p.87-88; Bukhari, Cairo, n.d. v.3, pp.49-50; Muslim, Cairo, 1955 v.2, p.812-818; Darimi, Damascus, 1349 A.D, v.2, p.133)

*Mahasiswa doktoral bidang Teknik Nuklir.