Rihlah Spesial Midori Suzukakedai

Bertempat di sebuah villa pribadi yang berlokasi di daerah kota Nasu (那須町), Kajian Midori Suzukakedai kembali diadakan pada 25 dan 26 Februari 2011 yang kali ini bertepatan dengan awal musim liburan semester di Tokodai.


Sebanyak 14 orang ikut ambil bagian dalam acara tersebut, termasuk di dalamnya beberapa santri Ookayama yang juga turut dalam rombongan Suzukakedai. Jumlah tersebut pas dengan kapasitas kendaraan (Toyota Hi-Ace Long Wheelbase) yang sengaja disewa untuk acara tersebut.


Perjalanan selama kurang lebih 6 jam mesti ditempuh dari yang seharusnya 3 jam saja. Padatnya lalu lintas di dalam kota Tokyo, meskipun melewati jalan tol, sangat terasa bedanya ketika keluar dari Kanagawa memasuki Tokyo Metropolitan Area hingga keluar lagi dari Tokyo. Perjalanan yang dimulai dari bilangan kampus Suzukakedai sekitar pukul 13:45 tersebut mesti singgah di area peristirahatan (rest area) yang banyak tersedia di sepanjang jalan raya Tohoku, untuk menunaikan ibadah shalat ‘Asar terlebih dahulu.


Sesampainya di villa tujuan, kira-kira ba’da Maghrib, dilanjutkan dengan persiapan makan malam yang telah disiapkan sejak sebelum berangkat. Tata ruang villa yang memang seluruhnya disewa, memungkinkan para santri bisa menyiapkan sajian makan malam dengan leluasa. Tidak kurang dari dapur lengkap dengan segala fasilitasnya dan seperangkat meja makan besar beserta 18 kursi yang mengitarinya sudah tersedia di villa tersebut.

Sambil duduk mengitari meja besar tersebut, kajian dan diskusi Midori Suzukakedai dilangsungkan dalam aura kedekatan antar santri yang memang menjadi ciri khas kajian-kajian Midori Suzukakedai. Tidak jauh berbeda dengan kajian-kajian Halaqah Tarbiyah yang diinspirasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir.


Sembari duduk-duduk mengitari meja besar dan berdiskusi, teh jahe panas ala angkringan dan sup nabe seafood yang uap panasnya mengepul-ngepul memenuhi ruangan, ikut menemani para santri hingga menjelang tengah malam.

Seperti biasanya Midori Suzukakedai, diskusinya melebar kemana-mana. Namun selalu berangkat dari satu satu topik pembahasan yang kali ini dari dua buah hadist Nabi SAW yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

Innallaha fii ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii ‘auni akhihi” (H.R. Muslim)

“Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”

Wa man kaana fii haajati akhiihi, kaanallahu fii haajatihi” (H.R. Bukhari)

“Barangsiapa yang menolong keperluan saudaranya, maka Allah akan menolong keperluannya”

Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa ketika kita sedang dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan, maka jalan keluarnya adalah justru dengan memberikan pertolongan yang bisa kita berikan pada saudara kita lainnya. Berbeda dengan pandangan umum, yang memang sejalan dengan naluri manusia ketika sedang dalam kesusahan, bahwa saat ditimpa kesusahan, seakan-akan segalanya juga berakhir.


Kalau ditelaah lebih jauh, ternyata kondisi kita yang membutuhkan pertolongan tersebut, bukan halangan untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Dengan dasar pesan Nabi SAW di atas, kalau kita sedang punya masalah kekurangan uang untuk membayar sekolah sebesar 100 ribu Yen, maka kita harus mencari orang lain yang punya hutang 10 ribu Yen, misalnya. Tentu dengan asumsi bahwa uang yang kita miliki adalah sebanyak 50 ribu Yen saja misalnya, sehingga cukup untuk membantu teman yang punya hutang 10 ribu Yen, tetapi tidak cukup untuk membayar sekolah yang 100 ribu Yen.

Demikian halnya kalau masalah yang kita punyai adalah penerimaan manuskrip di jurnal tertentu atau riset yang tak diketahui ujung pangkalnya, maka kita mesti mencari orang lain yang sedang punya masalah juga. Tidak selalu harus sama masalahanya, tetapi paling tidak masalah-masalah yang kita merasa bisa jadi bagian kecil saja dari pertolongan bagi orang lain tadi.