Anak-anak Muslim yang tinggal di Jepang

Kalau di sekolah anak Anda ada anak yang memakai scarf atau berpuasa, apakah Anda akan terkejut? Tapi tidak akan ditemui perasaan khawatir di wajah anak-anak itu, yang belajar, bermain, tertawa bersama anak-anak Muslim (pemeluk Islam).

Tahukah Anda apa masalah kehidupan sehari-hari para Muslim?

1. Saya berputar-putar mencari TK yang membolehkan anak saya tidak makan daging babi.

Tiga setengah tahun lalu, Aga Mari-san, Muslim Jepang yang suaminya berasal dari Kenya, kebingungan mencari TK untuk anak perempuan pertamanya yang saat itu berusia dua setengah tahun, Aisya (sekarang 6 tahun). Di dalam Islam, ada makanan-makanan tertentu yang tidak boleh dikonsumsi, seperti daging babi, sehingga bagi Muslim cukup sering mereka tidak bisa makan menu makan siang dari TK. Agar bisa makan sesuai ajaran agamanya, maka Mari-san berharap ada izin khusus agar anaknya bisa membawa bento dari rumah. Mari-san yang tinggal di prefektur Tochigi akhirnya mencoba menanyakan lima TK yang terdapat di lingkungan rumahnya, tapi hasil yang didapatkan hampir semua negatif: “Tidak bisa mengizinkan bila alasannya agama”, “Bila alasannya alergi diperbolehkan”, “Kasus seperti ini tak ada sebelumnya”. Karena tak ada pilihan lain, Mari-san memutuskan untuk melupakan niatnya menjelaskan mengenai Islam dan memasukkan Aisya ke TK yang membolehkan alasan alergi, ketika suaminya, Muhammad-san dipindahkan oleh perusahaannya ke Tokyo.

Kembali, Mari-san harus mencari lagi dari nol.

Berbekal pengalaman dari Tochigi, Mari-san kemudian menahan diri tidak menyebut tentang Islam ketika mencoba ke TK-TK lain. Tapi setelah menetapkan hati, Mari-san memberi tahu ke kepala sekolah dari TK yang mereka incar bahwa mereka Muslim. Gayung bersambut, justru kemudian kepala sekolahnya yang memulai mengizinkan mereka membawa bento dari rumah ketika masuk ke pembahasan aturan makan siang di TK. Juga kalau ada kegiatan di TK yang tidak bisa dihadiri karena alasan agama, sang kepala sekolah menawarkan, “Tolong jangan ragu menghubungi saya”. Setelah ditanya, ternyata sebelumnya juga pernah ada anak Muslim yang sekolah di TK tersebut.

Keterangan gambar : Aga Aisya-chan, sedang membaca Qur'an di sebuah masjid di Tokyo. Meskipun di Jepang (dengan Muslim yang minoritas), banyak masjid yang punya kelas-kelas untuk anak-anak.

Terhadap kehidupannya sekarang yang sudah tidak perlu bersusah payah untuk urusan agama, Mari-san berkomentar, “Saya pikir kehidupan saya yang sekarang diberkahi. Sungguh, perbedaannya bagaikan langit dan bumi”. Tidak hanya TK saja, tapi lingkungan sekitar dan teman-temannya pun sudah mulai bisa menerima. Dulu, bila Mari-san keluar dari rumah dengan scarf bisa menjadi bahan obrolan ibu-ibu sekitar, sehingga ia lebih sering menutup diri di rumah. Dibandingkan masa-masa itu, maka sekarang sudah jauh lebih baik.

Keterangan gambar : Di sebuah SD di prefektur Saitama, Fayyaz Adiq-kun, asal Pakistan, menunjukkan isi bento-nya ke teman sekelasnya.


2. Teman-teman sekelas: “Saya ingin berteman denganmu”

Apa yang paling terlihat beda dari Ooki Michiyo-san (12 tahun), seorang murid SMP di Yokohama, bagi orang-orang yang tidak mengenalnya? Mungkin pakaiannya, yang sangat “mencolok” dibandingkan yang lain. Sebagai seorang Muslim, Michiyo sudah memakai scarf sejak kelas 3 SD untuk pergi ke sekolah, ditambah tights hitam di bawah rok agar menutupi kakinya. Tapi bagi temannya sejak kelas 2 SD, Yamamoto Misaki-san (12 tahun), Michiyo tidak ada bedanya dengan dirinya atau teman-temannya yang lain, dan tetap merupakan sahabatnya. Terkadang ia bahkan tidak merasakan adanya perbedaan sama sekali.

Keterangan gambar: Sejak SD, Ooki Michiyo-san sudah memakai scarf ke sekolah. Para orang tua menyebut kalau pihak sekolah akan memahami bila dijelaskan alasannya (atas). Michiyo tergabung dalam klub voli. Ayahnya, Hirofumi-san, meminta pihak sekolah untuk tidak memberlakukan Michiyo secara spesial hanya karena dia Muslim (bawah).

Keterangan gambar: Pertemanan anak-anak dimulai dari saling mengerti satu sama lain. Di SD Kurono, diizinkan bagi siswa untuk menggunakan ruang kelas Amigo bila ada yang meminta izin. Walaupun keluarga yang meminta izin masih sedikit, tapi pihak sekolah sekarang mudah untuk mengizinkan karena banyak kelas yang kosong akibat rendahnya tingkat fertilitas di Jepang.

“Kelihatannya saya sudah terbiasa. Pertama kali mungkin banyak sekali keraguan, tapi sekarang sih sama sekali tidak terasa. Sudah menjadi hal yang lazim,” ungkap Misaki. Tentu saja Michiyo menjelaskan tentang kegiatan ibadahnya dan alasan kenapa dia tidak makan makanan tertentu. Tapi perbedaan di antara mereka tidak menjadi halangan bagi persahabatan. Mereka tetap bercengkerama dengan teman-teman gengnya ketika jam istirahat sekolah, dan mereka juga bermain voli di klub voli.

Walaupun begitu, persahabatan mereka tidak terbangun begitu saja secara alami. Michiyo, yang pindah sekolah dari Malaysia ketika kelas 2 SD, hampir tidak bisa bahasa Jepang ketika itu, sehingga sangat sulit untuk bisa berteman. Ibunya, orang Indonesia, berpikir bahwa mungkin saja teman-temannya menghindari Michiyo karena dia adalah Muslim.

Tetapi sebelum libur musim panas, dari guru wali kelasnya, ibu Michiyo kemudian paham bahwa itu hanya salah sangka. Anak-anak di kelas bilang kalau mereka ingin bisa ngobrol dengan Michiyo-chan, ingin berteman, lalu mereka menanyakan ke saya, "Tapi kami tidak tahu bagaimana memulai obrolan. Bagaimana, Sensei?'” Begitulah penjelasan sang wali kelas ke Hirofumi-san, ayahnya. “Tampaknya ada kesalahpahaman akibat prasangka satu sama lain,” jelas sang ayah.

Setelah Michiyo sudah bisa menghapal beberapa kosakata bahasa Jepang, dia kemudian percaya bahwa dia harus melakukan komunikasi yang proaktif ke teman-temannya. Karena untuk menghilangkan kesalahpahaman, memang harus dari diri kita sendiri yang melangkah maju.

3. Menu makan siang, kolam renang, kekuatan doa, dan usaha pihak sekolah dan guru

Di SD Kurono di Gifu, biasanya setelah selesai pelajaran renang, anak-anak, dengan dibalut handuk, akan keluar dari kolam renang dan kembali ke kelasnya. Tapi di antara mereka ada tiga anak yang justru pergi ke ruangan lain.

Ada sebuah ruangan kelas yang dinamakan Amigo di sekolah tersebut, yang diperuntukkan khusus untuk anak-anak asing. Salah satu sudut ruangan tersebut dijadikan tempat ganti pakaian untuk anak Muslim. Dalam Islam, walaupun sesama laki-laki, adalah hal yang tidak baik untuk menunjukkan bagian tubuh antara pusar dan mata kaki. Dan untuk perempuan, jamak dipahami bahwa ada lebih banyak hal yang perlu diperhatikan. Tidak cukup hanya dengan berganti pakaian di kamar locker guru perempuan, tapi mereka juga perlu menutup lengan dan kakinya dengan pakaian renang khusus. Selain itu, untuk menjaga kehormatan perempuan, mereka juga harus menutup semua bagian tubuhnya kecuali tangan dan muka di depan laki-laki lain selain anggota keluarganya.

Keterangan gambar: SD Kurono di Gifu menggunakan papan menu dengan label "豚" (babi) untuk menunjukkan bila ada makanan yang menggunakan  daging babi, lard (minyak babi) atau bahan makanan lain yang berasal dari babi. Bila diperhatikan, di karuta (permainan kartu untuk anak-anak) Islam banyak terdapat nilai-nilai yang mengandung perpaduan  budaya Islam dan budaya Jepang.

Yanagizawa-san, yang bertugas sebagai penanggung jawab pelajaran bagi anak-anak asing, tidak hanya melayani Muslim, tetapi juga merangkum hal-hal mengenai ajaran Islam serta kewajiban sebagai Muslim, lalu membagikannya ke rekan kerjanya. Yanagizawa-san mendorong pihak guru untuk memahami Islam. Menurutnya dalam bersinggungan dengan budaya lain, hal penting yang perlu dilakukan pertama kali adalah memahami.

Hal-hal seperti ini bisa terjadi karena memang SD Kurono berada di dekat sebuah universitas, sehingga anak-anak dari mahasiswa asing banyak yang sekolah di sekolah tersebut. Ini membuat interaksi dengan anak-anak asing menjadi hal sehari-hari di SD Kurono. Bila dalam kehidupan sehari-hari anak-anak memiliki pertanyaan mengenai kebiasaan atau cara berpikir, atau mengalami pergesekan budaya, hal ini dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk belajar, dan mengajarkan mengenai budaya. “Saya pikir anak-anak SD Kurono sangat beruntung dalam hal ini,” jelas Yanagizawa-san.

Guru yang mengambil terobosan seperti Yanagizawa-san masih sedikit. Tetapi orang tua Muslim mulai merasakan perubahan di sekolah, yang sebelumnya memperlakukan semua anak dengan cara yang sama. Misalnya, sekitar 4-5 tahun lalu ada yang melarang orang tua yang membawakan anaknya bento sebagai pengganti menu makan siang yang disediakan sekolah. Tetapi sekarang sudah hampir tidak ada lagi yang melarang. Keluhan dalam membesarkan anak di Jepang mulai berkurang, meski sedikit demi sedikit.

4. Orang tua dan anak yang mencemaskan perbedaan dengan orang Jepang

Meskipun orang-orang di sekeliling berusaha memahami, masih ada masalah yang sulit diselesaikan. Beberapa orang tua Muslim tidak dapat menerima beberapa hal di Jepang, dengan komentar seperti “tidak dapat menerima pelajaran berenang yang tidak memisahkan laki-laki dan perempuan”, “tidak menyukai media atau jalanan yang dipenuhi dengan informasi berbau seksual”, “tidak dapat mendidik agama anak dengan lingkungan seperti Jepang”. Tak mengherankan, saat anaknya melanjutkan ke jenjang SMP, tidak sedikit orang tua yang tidak melanjutkan pendidikan anaknya di Jepang lalu mengirim anaknya ke sekolah di luar Jepang, seperti di negara asal orang tuanya.

Di lain sisi, anak-anak mengalami konflik identitas. Afridi Masayo-san yang tinggal di Nagoya mengungkapkan kesulitan yang dialami putranya, 7 tahun, sebagai Muslim Jepang. “Biasanya kalau sedang di rumah kakek, kami makan makanan Jepang seperti biasa. Lalu, saat anak saya hendak mengambil makanan, saya otomatis mengingatkan, ‘Yang ini tidak boleh; yang ini juga tidak boleh’. Anak sulung saya kemudian berujar, 'Kenapa saya bukan orang Jepang, Ibu?'” Melihat hal itu, Masayo-san menjadi khawatir, jangan-jangan di sekolah pun anaknya merisaukan perbedaannya dengan teman-temannya.

Keterangan gambar: Memahami perbedaan budaya sungguh suatu kekayaan. Motohashi Salisa dari Ghana sedang berdoa sementara teman-teman anaknya bermain pakai topeng. Barangkali bagi anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa dengan perbedaan, perbedaan adalah hal yang wajar.


Qureshi Azuka-kun (17 tahun), juga dari SMA di Nagoya, bercita-cita ingin berkarir di bidang fashion di masa depan. Di hari libur, biasanya bersama teman-temannya dia berkeliling ke butik-butik mode. Dia juga sangat memperhatikan penampilan—di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, selalu berdiri di depan cermin selama puluhan menit untuk menata rambutnya.

Walaupun terlihat seperti umumnya anak SMA yang sangat peduli dengan penampilan, tapi alasannya berbuat demikian, menurutnya, adalah agar dia bisa diterima oleh teman-temannya. Pada kenyataannya, hal ini bukan karena dia tidak terbiasa dengan keadaan sekeliling sehingga menjadi susah beradaptasi, ataupun selalu merasa berbeda dengan teman-temannya. Tapi contohnya, ketika dia sedang puasa seorang diri di saat teman-temannya makan siang, maka perbedaan tersebut walaupun tidak disengaja akan nampak. “Saat teman-teman saya bertanya kenapa tidak makan, ternyata memang tidak mudah (kondisi tersebut) buat saya” jelas Azuka.

5. Prasangka buruk kepada Muslim yang tidak kita sadari

Matsumoto Takaaki-san, guru ilmu sosial di sebuah SMA negeri, selama 3 tahun mengadakan survei mengenai Islam kepada murid-murid tahun pertama di 20 sekolah di daerah Tokyo dan Kanagawa. Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa mayoritas memiliki opini negatif terhadap Islam, seperti “tidak fleksibel” dan “memiliki kebiasaan aneh”. Bahkan murid yang mengetahui lebih banyak tentang Islam justru menunjukkan kecenderungan opini negatif yang lebih besar. Terhadap hal ini, Matsumoto-san berpendapat bahwa bisa jadi banyak misinformasi tentang Islam di masyarakat.

Misalnya, walaupun puasa diwajibkan bagi Muslim, tapi ada pengecualian terhadap yang sedang hamil atau sakit (mereka tetap harus menggantinya setelah melahirkan atau sembuh). Hal ini menunjukkan bahwa perintah agama bisa menjadi fleksibel menyesuaikan realitas kehidupan yang ada. Lalu, salah satu alasan melaksanakan puasa tersebut bagi Muslim adalah agar mereka bisa merasakan perasaan orang miskin. Sehingga memang sangat besar peluangnya orang memiliki prasangka buruk terhadap Islam sebelum mengetahui “wajah aslinya”.

Untuk menghilangkan prasangka buruk, ada baiknya kita mencoba memulai dengan mencari titik temu antara Muslim dan kita.

Kalau kita lihat karuta (sejenis permainan kartu Jepang) Islam, yang didesain khusus untuk mengajarkan nilai keislaman ke anak-anak, pada kartu “ki” (き) akan kita jumpai pesan moral “Kikimasen, iimasen, otomodachi no kageguchi wa” yang berarti “Kami tidak akan mendengarkan dan membicarakan gosip tentang teman”. Lalu di kartu “ke” (け) tertulis: “Kenka wo shitara sugu nakanaori. Minna nakayoshi. Islam no ko” yang berarti “Kalau berantem segera baikan. Kita semua teman. Kita anak Muslim.” Tidakkah ini berbeda jauh dengan kesan “tidak fleksibel” dan “memiliki kebiasaan aneh”?

Keterangan gambar : Aga Mari-san, berbincang dengan teman-temannya di sebuah taman. Ada Muslim yang khawatir dengan interaksinya dengan tetangga, tapi ada juga yang beruntung mendapatkan teman-teman yang bisa mengerti (kiri-atas). Anak-anak Muslim sedang berenang dengan memakai pakaian renang yang menutupi kepala, lengan, serta kaki (kanan-tengah). Sesaat sebelum berangkat kerja, Aga Muhammad-san, sang ayah, mengisi lembaran yang akan diserahkan Aisha-chan ke TK (kanan-bawah).


6. Agar anak-anak dibiasakan dengan perbedaan budaya

Mari kita menerima cara hidup anak-anak Muslim. Ini tidak hanya membawa kebaikan yang bermakna besar bagi anak-anak Muslim tapi juga bagi kita, orang Jepang, karena kemampuan memahami perbedaan budaya sudah dianggap sebagai salah satu keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja.

Maruyama Hideki-san, peneliti senior di Institusi Nasional untuk kebijakan pendidikan, menjelaskan, “Kemampuan kita untuk beradaptasi di lingkungan yang heterogen akan diakui di era globalisasi ini”.

Kaneyama Saho-san, yang masuk Islam sejak SMA, terlibat banyak di pendidikan anak-anak penyandang cacat. Pendapatnya, “Misalnya hal yang berbeda dari diri kita, atau hal yang berbeda dengan yang selama ini kita tahu—keanekaragaman itu pasti memiliki arti atau sebuah nilai, menurut saya. Bukankah itu termasuk sebuah anugerah? Saya pikir, hati yang bisa menerima perbedaan itu sendiri juga termasuk anugerah”.

Catatan Editor, 19 Desember 2010

Artikel ini pertama kali diterbitkan di majalah Nikkei Kids Plus, edisi bulan pertama 2010, dengan judul "日本で暮らすムスリムの子"

Link : http://www2.dokidoki.ne.jp/islam/photo/10kids.htm

Penerjemahan dilakukan secara keroyokan oleh nama-nama di bawah ini—semuanya mahasiswa di Tokyo Institute of Technology:

  • Adiyudha Sadono
  • Reza Aryaditya
  • Priangga Perdana Putra
  • Aulia Averrous
  • Isa Ansharullah

Editor: Radon Dhelika (radon dot dhelika at gmail dot com)

Terjemahan dalam bahasa Inggris dapat diakses di link berikut ini.