Kok belajar bahasa Al Qur`an ?
3 Alasan Mengapa Belajar Bahasa Arab
10 Alasan Menguasai Bahasa Arab bagi Muslim dan Non Muslim
Kok belajar bahasa Al Qur`an ?
3 Alasan Mengapa Belajar Bahasa Arab
10 Alasan Menguasai Bahasa Arab bagi Muslim dan Non Muslim
Distribusi Pendapatan dan Kekayaan dalam Islam*
Oleh Muhammad Umar Chapra

Dengan komitmen Islam yang khas dan begitu kuat terhadap persaudaraan manusia juga keadilan social dan ekonomi, maka ketidakadilan pendapatan dan kekayaan bertentangan dengan semangat Islam. Ketidakadilan dalam hal itu bukannya membangun namun akan menghancurkan rasa persaudaraan yang ingin ditumbuhkan oleh Islam. Selain itu, karena berdasarkan Al Qur`an semua sumber daya adalah anugerah dari Allah bagi umat manusia
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [QS Al Baqarah(2):29]
maka tidak ada alasan kekayaan sumber daya tersebut tetap terkonsentrasi pada beberapa pihak saja. Oleh karena itu, Islam menekankan keadilan distributif dan menerapkan dalam sistem ekonominya program untuk redistribusi pendapatan dan kekayaan sehingga setiap individu mendapatkan jaminan standar kehidupan yang manusiawi dan terhormat. Hal inipun selaras dengan perhatian Islam terhadap martabat manusia yang melekat dalam ajaran Islam yaitu sebagai khalifah atau wakil Allah dimuka bumi.
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” [QS Al Baqarah(2):30]
Masyarakat Muslim yang gagal untuk memberikan jaminan standar kehidupan yang manusiawi tidaklah pantas mendapatkan nama `masyarakat Muslim`, sebagaimana Rasulullah menyatakan
`Bukanlah seorang Muslim yang makan hingga kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan`[1]
`Umar, khalifah kedua, dalam salah satu pidatonya menjelaskan keadilan sistem redistribusi dalam Islam bahwa semua orang memiliki hak yang sama dalam kekayaan yang dimiliki masyarakat, sehingga tidak seorang pun, termasuk Beliau, bisa menikmati hak yang lebih dibandingkan orang lain. Dan seandainya `Umar hidup lebih lama maka ia akan menyaksikan hal tersebut dimana seorang penggembala di bukit San`a sekalipun mendapat bagian kekayaannya.[2] Khalifah `Ali diriwayatkan telah menekankan dalam perkataannya `Allah telah mewajibkan bagi orang-orang yang kaya untuk memberi kepada orang miskin apa yang mencukupi bagi mereka. Apabila orang miskin kelaparan atau tak memiliki pakaian, atau mengalami masalah, maka hal ini terjadi karena orang-orang kaya telah mengambil hak mereka, dan Allah akan membuat perhitungan akan hal tersebut dan menghukum mereka.[3]Para ahli hukum Islam hampir seluruhnya sepakat bahwa adalah tugas dari semua anggota masyarakat Muslim secara umum dan secara khusus orang-orang kaya diantara mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar orang-orang miskin. Dan Apabila orang-orang yang kaya tidak memenuhi amanah ini, padahal mereka memiliki kemampuan untuk itu, maka pemerintah dapat bahkan harus memaksa mereka untuk melaksanakan tanggung jawab mereka.[4]
Program Islam untuk redistribusi kekayaan terdiri dari tiga bagian. Pertama, sebagaimana dibahas sebelumnya, ajaran Islam mengarahkan untuk memberikan pembelajaran atau pemberdayaan kepada para penganggur untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa memberi penghidupan bagi mereka, serta untuk memberikan upah yang adil bagi orang-orang yang sudah bekerja. Kedua, ajaran Islam menekankan pembayaran zakat untuk redistribusi pendapatan dari orang kaya kepada orang miskin[5] yang karena ketidakmampuan atau cacat (secara fisik atau mental, atau faktor eksternal yang diluar kemampuan mereka, misalnya pengangguran), tak mampu untuk memperoleh kehidupan standar yang terhormat dengan tangan mereka sendiri. Dengan redistribusi ini maka akan tercapai kondisi sebagaimana disebutkan oleh Al Qur`an
“…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu.” [Q Al Hasyr(59):7]
Ketiga, pembagian harta warisan dari orang yang telah meninggal kepada beberapa orang sesuai aturan Islam sehingga menguatkankan dan mempercepat distribusi kekayaan dalam masyarakat.
Konsep Islam tentang keadilan distribusi pendapatan dan kekayaan, juga konsep keadilan ekonomi tidak mengharuskan semua orang mendapat upah dalam jumlah yang sama tanpa memperdulikan kontribusinya bagi masyarakat. Islam mentoleransi adanya perbedaan dalam pendapatan karena setiap orang tidak memiliki karakter, kemampuan dan pelayanan kepada masyarakat yang sama.
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia menginggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” [QS Al An`aam(6):165]
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki…” [QS An Nahl(16):165]
“…Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [QS Az Zukhruf(43):32]
Oleh karena itu, keadilan distributif dalam masyarakat Islami membolehkan adanya perbedaan dalam pendapatan yang sesuai dengan nilai kontribusi atau layanan yang diberikan dimana setiap individu memperoleh pendapatan sesuai dengan nilai social dari layanan yang ia berikan kepada masyarakat. Namun perlu dicatat bahwa jaminan terhadap standar hidup yang manusiawi bagi semua anggota masyarakat melalui pengaturan zakat.
Penekanan ajaran Islam terhadap keadilan distributif begitu tegas sehingga telah ada sebagian Muslim yang meyakini konsep persamaan kekayaan secara absolut. Abu Dzar, seorang sahabat Rasulullah, berpendapat bahwa tidak halal bagi seorang Muslim untuk memiliki kekayaan melebihi kebutuhan dasar keluarganya. Namun, kebanyakan sahabat Rasulullah tidak sepakat dengan pandangan ekstrimnya ini bahkan mencoba untuk membujuk Abu Dzar untuk merubah pandangannya.[6] Namun Abu Dzar sekalipun tidak memihak kepada konsep nilai penghasilan yang sama namun Beliau berpendapat tentang kesamaan akumulasi kekayaan. Tentang itu, Abu Dzar pun menegaskan bahwa kesamaan akumulasi kekayaan bisa diraih bila semua kelebihan pendapatan atas kebutuhan mendasar (al-`afwa) dikeluarkan oleh orang tersebut untuk menolong nasib saudara-saudaranya yang kurang beruntung. Meskipun Islam sangat menekankan pentingnya keadilan distributif, namun para ulama Islam sepakat bahwa bila seorang Muslim meraih kekayaannya dengan cara yang benar, dan dari pendapatan dan kekayaannya itu ia telah memenuhi kewajibannya berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dengan membayar zakat dan kontribusi lainnya, maka tidak masalah meskipun ia memiliki kekayaan melebihi saudara Muslim lainnya.[7] Pada kenyataannya, apabila ajaran Islam mengenai halal dan haram dalam memperoleh kekayaan diikuti, prinsip keadilan bagi pekerja dan konsumen diterapkan, pengawasan terhadap redistribusi pendapatan dan kekayaan serta hukum Islam tentang harta waris ditegakkan, maka tidak akan terdapat ketidakadilan dalam pendapatan dan kekayaan dalam masyarakat Muslim.
[1] Bukhari, h.52:112
[2] Haykal, al-Faaruq `Umar, Kairo
[3] Abu Ubayd, Kitab al-amwaal, Kair0, 1353 A.D., h.595: 1909; untuk kutipan dengan kalimat sedikit berbeda, lihat Nahj al-Balaaghah, Kairo n.d, v.3, h.231.
[4] Untuk penjelasan lebih detail, lihat Siddiqi, Islam ka Nazariyya-e Milkiiyat, Lahore, 1968, h.272-279.
[5] Rasulullah ketika menugaskan Muadz sebagai Gubernur Yaman, memberinya sederetan tugas. Salah satunya adalah `untuk mengajarkan masyarakat bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk membayar zakat yang dikumpulkan dari orang kaya dan didistribusikan kepada orang miskin dikalangan mereka`. ( Bukhari, v.2, h.124; Tirmidzi, v.3, h.21: 625, dan Nasaa`I, v.5, h.3 dan 41).
[6] Lihat tafsir QS At Taubah(9) ayat 43 dalam Tafsir Ibn Katsir, v.2, h.352, dan Jassas, Ahkaam al-Qur`an, Kairo, 1957, v.3, h.130.
[7] Lihat tafsir Ibnu Katsir, v.2, h.350-353.
*Bagian dari Buku `Objectives of the Islamic Economic Order` oleh Dr.M.U Chapra. Bagian berjudul `Equitable distribution of Income`. Alih bahasa oleh MIDORI-ISC.
Persaudaraan dan Keadilan Universal*
Oleh Muhammad Umar Chapra

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS Al Hujuraat(49):13]
“Tuhan kalian adalah satu, kalian berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah; bangsa Arab tidak memiliki kelebihan terhadap bangsa lain begitupun bangsa berkulit putih terhadap bangsa berkulit hitam kecuali karena ketaqwaannya.”[1]
“Umat manusia berasal dari Adam dan Hawa, dan semua kalian setara sebagai keturunan mereka. Pada hari pembalasan, Allah tidak akan bertanya kepada kalian tentang asal-usul dan garis keturunanmu. Namun yang paling terhormat diantara kalian dihadapan Allah pada hari itu adalah yang paling takwa diantara kalian.” [2]
Islam bertujuan untuk membangun struktur sosial dimana setiap individu disatukan oleh hubungan persaudaraan dan rasa sayang sebagaimana sebuah keluarga yang diciptakan oleh Allah dari sepasang manusia. Persaudaraan ini bersifat universal dan tidak sempit. Persaudaraan ini tidak terikat oleh batas geografi tertentu dan mencakup semua umat manusia bukan hanya keluarga, suku, atau ras tertentu. Al Qur`an menegaskan
“ Katakanlah: ` Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua“ [QS Al A`raaf(7):158]
begitupun Rasulullah menekankan dalam sabdanya:
“Saya telah diutus kepada semua bangsa, berkulit hitam ataupun putih.”[3]
Konsekuensi alami dari konsep persaudaraan universal ini adalah adanya saling kerjasama dan tolong menolong. Khususnya antara sesame muslim yang selain terikat satu sama lain sebagai umat manusia karena kesamaan asal-usul, juga terikat oleh kesamaan ideology, dan disifatkan dalam Al Qur`an sebagai `saudara seagama`, dan `saling menyayangi diantara mereka` dalam ayat-ayat berikut“Saya fikir saya yang terlambat”, itulah ucapan pertama yang keluar dari mulut bang Abdullah Hehamahua - begitu beliau biasa di panggil - saat kami bertemu di Masjid Al Barkah di bilangan Bukit Duri Jakarta Selatan.
Usai shalat maghrib, beliau mengajak kami ke rumah kontrakannya yang terletak di sebuah gang sempit tak jauh dari mesjid tadi, sebuah rumah kontrakan sederhana untuk ukuran seorang pejabat KPK.
Dalam suasana santai dan bersahaja kami memulai wawancara dengan beliau, berikut petikannya.
..... disingkat .......
..... .......
”Ada pesan yang ingin disampaikan untuk generasi muda Muslim ?”
”Ya. Saya berpesan untuk kaum muda, pertama, jadilah hamba tauhidiyah, yaitu hamba yang mewakafkan diri hanya pada Allah. Semua fikiran, perasaan, dan gerak anggota tubuh hanya untuk mendapat ridha Allah.
Kedua, .jadilah generasi Qur’aniyah yaitu hamba yang seluruh pemikiran, perasaan, dan gerak anggota tubuhnya berdasarkan Qur’an, artinya, dirinya adalah Qur’an yang bergerak.
Ketiga, jadilah generasi pionir, yaitu hamba yang selalu tampil sebagai teladan dalam prestasi, baik di rumah, di tempat kerja, di sekolah atau di kampus dengan meneladani perilaku Rosulullah.
Keempat, jadilah mujahid, mujaddid, dan mujtahid yaitu hamba yang selalu berjuang di jalan Allah dengan pemikiran, inovasi, kreativitas, harta dan jiwanya, setiap saat, dimanapun dan kapanpun.
Sebelum wawancara berakhir pada pukul 21.30 wib, kami dipersilahkan minum teh manis, dan pisang goreng yang katanya pisangnya diambil dari kebun di belakang rumahnya di Depok.
http://www.voa-islam.com/news/interview/2009/07/07/149/abdullah-hehamahuaputra-saparua-yang-tak-kenal-takut/
------
Diposting di mailing-list Midori 9 Oktober 2011.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sahabat Midori yang dimuliakan Allah,
Dengan ini kami mengundang sahabat sekalian untuk hadir di acara kajian mingguan midori pada:
Hari, tanggal : Jum'at, 7 Oktober 2011
Jam : 19.30 - 21.30 JST
Tempat : Mushala Tokodai Ookayama, Gedung S3 Lt.10+
Agenda:
1. Pembacaan hadits
2. Musyawarah
3. Kajian Midori oleh Ust. Wisnu Ananta Samudera dengan tema "Kuatkan kembali semangat Ukhuwah Islamiyah!".
4. Tahsin surat Annaba ayat 1-16
Demikian undangan kami, semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan kemudahan dan semangat pada kita untuk terus memakmurkan majlis-majlis ilmu.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pengurus Midori
---------------------
Kuatkan kembali semangat Ukhuwah Islamiyah !
Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakaatuh,
Sahabat Midori yang dimuliakan Allah SWT,
Semoga ini bisa mengawali tradisi untuk mengkaji buku-buku karangan ulama salaf maupun kontemporer. Tidak ada kata yang tepat untuk disematkan kepada "beliau-beliau", selain kata "penghormatan". Dedikasi mereka yang tinggi, kerinduan mereka akan dipahaminya "keindahan islam" oleh umatnya, telah menghasilkan berbagai buku yang insya Allah bermanfaat untuk memberikan penyadaran dan pencerahan pada umat. Sudah selayaknya kita, yang sehari-hari bergelut dengan ilmu pengetahuan, untuk menghargai usaha beliau-beliau ini: dengan salah satunya membaca dan mendiskusikannya, sekaligus menilai berdasarkan referensi-2 yang sebelumnya kita miliki, sehingga dalam diskusi tersebut kita bisa saling MENERIMA dan MEMBERI, dalam semangat mencari kebenaran.
Maka, berikut saya hadirkan karya salah satu ulama kontemporer yang saya kagumi: Dr. Yusuf Qardhawi. Semoga bermanfaat.
Berikut materi yang bisa dibaca terkait tema Midori nanti malam, insya Allah. Materi ini diambil dari buku Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an dan Sunnah, karya Dr. Yusuf Qardhawi :
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/index.html
Buku ini membahas dari mulai Aqidah, ibadah, pemikiran, akhlak, tradisi, nilai kemanusiaan (HAM), hukum, ekonomi, seni, dan wanita. Saya ambil beberapa materi yang terkait ukhuwwah. Semoga ini bisa menjadi pengantar materi nanti malam. Sangat diharapkan masukan dari sahabat yang lain untuk memperkaya pemahaman kita mengenai Ukhuwwah Islamiyyah.
Berikut materinya:
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/TugasMasyarakat.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/BukanMasyarakat.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/Persaudaraan.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/RasaCinta.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/Itsar.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/Selaras.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/Persatuan.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/Taawun.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/KisahTaawun.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/Takaful.html
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/SemuaGolongan.html
Semoga kita mendapatkan manfaat dari diskusi nanti malam dan berusaha sepenuh hati dan tenaga mewujudkan Ukhuwwah Islamiyyah ini.
Materi presentasi kajian malam ini bisa disimak di link berikut
http://groups.yahoo.com/group/midori-isc/files/Ukhuwwah%20Islamiyyah.pdf
Wassalamu 'alaikum warahmatullah
Wisnu
Assalamu'alaikum,
Sahabat Midori yg dirahmati Allah, ini ada notes dari FB temen sebagai
penambah semangat dalam menghafal Al-Quran. Di sela-sela kesibukannya
sebagai manajer, ternyata beliau mampu menghafal keseluruhan Al-Quran dalam
tempo yg cukup singkat, 1,5 tahun. Semoga kita bisa menyusul beliau menjadi
para penghafal Al-Quran, amiin...
-------------------
Nizar, seorang Manager di PT Telkom, bapak 3 anak, usia 37 th – telah
berhasil menghafal Al Qur’an 30 juz dalam waktu yang relatif singkat yaitu
sekitar 1,5 th. *Subhanallah Alhamdulillah, Allahu Akbar*. Berikut ini
kisah yang beliau sampaikan dalam acara MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa)
di masjid Al Hikmah TELKOM Divre 3 Sabtu, 11 April 2009.
Membangun motivasi antara lain dengan cara:
* Ketika umroh (alhamdulillah mendapat penghargaan dari perusahaan) berdo’a
agar dijadikan oleh Allah sebagai bagian dari orang-orang penghafal Al
Qur’an.
Salah satu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Medinah yang kemudian membuat perubahan besar dalam penguasaan ekonomi adalah konsep bahwa bekerja adalah Ibadah. Melalui konsep inilah kaum Muhajirin yang berhijrah mengikuti Rasulullah SAW tanpa membawa harta -pun segera menjadi asset bagi umat dan bukannyaliability - karena mereka dapat mengoptimalkan kemampuannya baik dalam kegiatan produksi maupun kegiatan perdagangan.
Digambarkan dalam sejarah bahwa setelah Hijrahnya Rasulullah SAW dan para pengikutnya, bumi-bumi yang semula gersang-pun kemudian terolah menjadi kebun-kebun yang subur dan taman-taman yang indah. Karena konsep bekerja adalah ibadah pula, maka hal-hal positif yang terkait dengan peribadatan seperti keadilan, kejujuran, kesetaraan, kehati-hatian, kebersahajaan, infaq dlsb. dapat termanifestasikan dalam kehidupan umat sehari-hari ketika mereka bekerja.
Alhamdulillah, malam itu Kamis, 22 September 2011, musyawarah dalam rangka pergantian pengurus midori berlangsung dengan sangat baik, penuh nuansa kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang membuat suasana musyawarah terasa hangat dan dapat dinikmati oleh semua warga midori yang hadir pada malam itu. Musyawarah yang berjalan cukup lama karena mengakomodir pendapat-pendapat yang banyak sekali muncul dari warga midori ini pada akhirnya memutuskan secara mufakat untuk memberikan amanah kepelayanan midori periode 2011-2012 kepada pengurus midori yang baru yang dipimpin oleh pak Topan Setiadipura selaku Amir Midori dengan didampingi oleh pak Tedi Kurniawan dan saudara Isa Ansharullah.

Hari itu, Ahad 22 Mei 2011, benar-benar menjadi hari yang sangat spesial bagi sahabat midori dan KMII-Jepang karena acara Kajian Midori Sangat Spesial II yang bertempat di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) telah dapat terlaksana dengan sukses, baik dan lancar. Sekedar diketahui bahwa acara Kajian Midori Sangat Spesial atau sering disebut dengan KMSS merupakan agenda rutin setiap 3-4 bulanan yang diagendakan oleh pengurus pelayan midori periode 2010-2011.

Gambar 1. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an oleh saudara M Nasih Basyarahil