Kisah Terbaik: Surah Yusuf

Kajian Midori Suzukakedai kali ini dibawakan oleh ustadz kita Samratul Fuady, a.k.a Aad, salah satu mahasiswa senior di Tokodai. Materi yang dibawakan mengacu kepada seri ceramah/lecture yang dibawakan oleh Syaikh Yasir Qadhi secara online yang berjudul “The The Best Stories: Pearls of Surah Yusuf”. Kajian kali ini membahas sampai ke part 2 dari seri lecture tersebut.

Surah Yusuf adalah salah satu surah yang unik di dalam Al-Qur’an. Ada dua alasan mengapa Surah Yusuf disebut unik. Alasan pertama adalah Surah Yusuf adalah satu-satunya surah yang membahas kisah Nab Yusuf ‘alaihis salam. Alasan kedua adalah Surah Yusuf adalah satu-satunya surah yang menceritakan suatu kisah secara lengkap dan runut dari awal sampai akhir.

Surah Yusuf diturunkan ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengalami tahun-tahun yang penuh kesedihan, atau yang biasa disebut ‘aam al-huzn. Di tahun-tahun itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam banyak mengalami musibah dan cobaan, mulai dari wafatnya istri beliau Khadijah radhiyallahu ‘anha, hingga wafatnya paman beliau yang sangat beliau cintai dan menjadi salah satu pendukung Islam paling besar saat itu, yaitu Abu Thalib. Di tahun itu pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan penolakan di Tha’if, tentu kita sudah pernah mendengar cerita itu. Oleh karena itu, Allah menurunkan Surah Yusuf sebagai penghibur bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penyemangat bahwa setelah semua ujian dan musibah, Allah akan memberikan akhir yang baik.

Hal lain yang menjadi alasan diturunkannya Surah Yusuf pada saat itu adalah, kaum kafir Quraisy ingin menguji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menunjukkan bahwa beliau bukan Nabi. Maka mereka bertanya kepada kaum Yahudi Yatsrib (Madinah), “Beritahu kami satu pertanyaan yang jawbannya hanya diketahui oleh seorang Nabi”. Maka Yahudi tersebut berkata, “Tanyakan kepadanya tentang Yusuf dan saudara-saudaranya. Tidak ada yang tahu tentang ini.”. Hal ini menarik karena di Mekah tidak ada pusat keagamaan atau pun orang-orang yang “mendakwahkan” agama Yahudi maupun Kristen. Tidak ada orang mekah yang tahu tentang kisah ini.

Maka, ketika kaum Quraisy bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Ceritakan kepada kami kisah Yusuf dan saudara-saudaranya jika kamu benar seorang Nabi”, Allah menjawab pertanyaan itu dengan menurunkan Surah Yusuf.

Materi lebih lengkapnya bisa dibaca di sini ya…

Ke Surga karena Takut kepada Allah

Kajian Midori Suzukakedai kali ini dibawakan oleh Abdurrisyad Fikri, mahasiswa M1 yang baru saja bergabung di Tokodai sekitar dua bulan yang lalu. Materi yang dibahas mengacu kepada buku karya Ustadz Anshari Taslim yang berjudul “Thariqus Shalihin; Jalan Para Penghuni Surga”. Lebih lengkapnya bias disimak di paragraf berikut.

Sudah umum diketahui bahwa syarat utama untuk masuk ke Surga adalah Iman. Tanpa iman, mustahil seseorang bisa masuk ke surge Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana kita ketahui, paman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib saja yang jasanya sangat besar terhadap Islam, tidak bisa masuk ke surga dan berada di neraka sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penduduk neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib, dia dipakaikan dua sandal dari neraka dan dengan itu otaknya jadi mendidih.” (HR. Muslim, no. 212)

Selain itu, Allah juga berfirman di dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 91 yang terjemahannya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah diterima dari seorangpun dari mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (sebanyak) itu. Bagi merekalah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh pelindung.”

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk ragu, bahwa syarat masuk ke surga adalah Iman.

Iman yang benar akan disertai rasa takut kepada Allah dan juga harap kepada Allah. Kajian kali ini membahas hikmah dari rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hikmah rasa takut kepada Allah antara lain:

1. Ampunan Allah bagi yang takut kepada-Nya

2. Dua surga untuk mereka yang takut pada Tuhan mereka

3. Berada dalam naungan khusus dari Allah

4. Takut melakukan dosa sebagai salah satu penyebab terkabulnya doa

5. Takut kepada Allah menjadi motivasi dalam beramal

6. Orang-orang yang takut kepada Allah akan dimenangkan di muka bumi

7. Di akhirat Allah akan memberikan rasa aman bagi yang takut kepada-Nya di dunia

8. Takut kepada Allah sebgai salah satu penyelamat untuk kehidupan dunia dan akhirat

Untuk hikmah yang pertama, salah satu dalilnya adalah Al Qur’an surah Al-Mulk ayat 12 yang terjemhannya adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Mulk: 12).

Untuk materi kajian selanjutnya dapat diunduh di sini ya. Jika ingin lebih lengkap, silahkan baca di bukunya, bisa pinjam ke pematerinya langsung, hehe.

Apakah Anda mengalami Toxic Success ?

Apakah Anda mengalami Toxic Success?

Oleh Nopriadi Hermani Al-Midori, Ph.D*


Dr. Pearsell dalam penelitiannya bertahun-tahun menemukan banyaknya orang yang menderita (hidupnya) setelah sukses. Menurutnya, ciri orang yang terkena syndrome sukses toksik adalah bila orang dekat Anda menilai Anda, diantaranya:
1. Sukses Anda telah mengakibatkan Anda tidak peka pada perasaan orang lain dan tidak hirau pada kebutuhan orang lain
2. Anda telah mengikuti tempo kehidupan modern yang penuh stress dan memandangnya sebagai syarat yang tak terhindarkan untuk mencapai sukses.
3. Anda berpikir waktu adalah uang
4. Anda jarang menyentuh dan memluk
5. Anda jarang bicara tentang spritualitas
6. …
(selanjutnya baca Toxic Success karya Dr. Pearsell)

Kemudian konsultan pribadi jutawan Silicon Valey pernah mengatakan tentang nasib kliennya,

“Mereka telah membeli BMW dan mereka memiliki rumah di Mill Valey senilai $ 3 juta. Tetapi mereka masih saja bangun di waktu pagi dan mengatakan, ‘Aku tidak senang dengan diriku” (Dr. Stephen Goldvart)

Terlepas akurat atau tidak penilaian ini, maka penting kita bertanya apakah kita telah memiliki konsep/nilai yang kita pegang dalam hidup? Yang menjamin kebahagiaan, baik saat meraih sweet success atau sweet failure.
Sudahkah kita membekali konsep itu untuk anak-cucuk kita? pasangan kita?

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Muhammad saw bukan sekedar seorang nabi. Disamping menunjukkan konsep luar biasa bagaimana menata negara atau dunia, dia juga menawarkan konsep self-help hebat yang patut dipelajari. Sejak ‘92 hingga sekarang saya membaca dan mengkoleksi buku-buku pengembangan diri. Akhirnya saya semakin merasakan konsep self-help Muhammad saw adalah yang terbaik.
Muhammad saw adalah saudagar kaya yang rela melepas kenikmatan dunia untuk menyampaikan konsep-konsep hidup yang hebat, yang bukan berasal darinya.
Dia tidak mengklaim kehebatan itu, tapi mengakui bahwa dia hanyalah penyampai risalah dari pengatur alam semesta.

- Semoga bermanfaat -

*Alumni Midori , Staf Pengajar TEknik Fisika UGM.

Sejarah Jepang

Oleh : Ust. Radon
Sejarah adalah lautan hikmah. Dengan sekarang kita ditakdirkan oleh Allah untuk singgah beberapa tahun di Jepang, menjadi semakin relevan buat kita untuk tahu sejarah Jepang.
Mari kita melayang sejenak mulai dari abad 15 atau 16, lalu terbang hingga ke era modern Jepang sekarang ini.
Lalu kita coba ambil hikmah-hikmah yang relevan bagi kita dari kacamata Islam.
Mari kita simak kajiannya di link youtube berikut. Douzo :)

Read more...

Lebih dari 1000 amalan Sunnah dalam sehari semalam

Karya Ust. Khalid Al-Khusainan
oleh
Ust. Pribadi Mumpuni Adhi

Pada pembukaan buku ini, dibahas mengenai betapa banyaknya keuntungan mengerjakan amalan sunah. Jika diibaratkan dengan uang, maka amalan2 sunah ini merupakan bisnis paling prospektif untung meraih keuntungan dunia akhirat. Allah juga kadang menggunakan bahasa2 bisnis dalam mengajak umatnya untuk meraih surgaNya seperti jual beli, perniagaan paling menguntungkan, dll. Dengan memahami perumpamaan ini, semoga bisa memudahkan kita dalam membayangkan betapa besarnya keuntungan yang kita raih apabila kita mengerjakan amalan2 sunah.

Dijelaskan juga bahwa apabila kita mencintai Allah dan RasulNya, maka kita seharusnya juga mengikuti apa perintah dan laranganNya, dan mengerjakan amalan2 yang diutamakan atau hanya sekedar disarankanNya. Walaupun kita mengetahui bahwa yang menentukan kita masuk surga atau tidak dari rahmat Allah, tapi untuk meraih rahmat tersebut kita harus ittiba, berusaha meningkatkan kedudukan kita di hadapan Allah, yang juga bergantung kepada amalan amalan kita.
Adapun faedah melakukan amalan-amalan sunnah :
1. Mendapatkan derajat Al Mahabbah (kecintaan Allah kepada hamba-Nya yang mukmin)
2. Penambal kekurangan ibadah wajib
3. Pencegah jatuhnya kedalam bid’ah
4. Pengagungan syiar-syiar agama

Berikut beberapa aktivitas yang senantiasa mewarnai keseharian kita (yg sempat terbahas), yang mana akan sayang bila tidak disertakan dengan sunnah-sunnah. Apabila pahala adalah keuntungan, maka dapat kita bayangkan banyaknya keuntungan yang bisa kita panen tiap hari.

Read more...

Mengejar S3, its a musk

Bismillahirrahmanirrahiim...

Assalamu'alaikum wr wb.

Sahabat midori yang dirahmati Allah SWT, Berikut resume kajian midori yang disampaikan oleh Ust. Topan & Ust. Chandra semalam (18 Oktober 2013).

"Mengejar S3, its a musk!! "


S3 yang dimaksudkan disini adalah :
1. Standardisasi, yaitu standar sebagai seorang muslim, yang tergambarkan di rukun iman dan rukun islam, bagaimana kita bersikap kepada Allah, kepada Rasul-Nya, Al Quran, dan seterusnya. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
"Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah (nawafil) hingga Aku mencintainya..."


Dari sini, dua standar yang penting dimiliki seorang muslim, yaitu :

  • Memegang amalan wajib
  • Gemar melaksanakan amalan sunnah
  • Selain itu, juga, gila ilmu, karena dengan ilmu lah kita bisa beramal dengan benar.
  • Wirid Al-Quran harian. Intinya bagaimana kita memaknai setiap hari/waktu yang diberikan.

Read more...

Menggapai Ridho Illahi

Bismillahirrohmanirrohiim

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sahabat midori yang dirahmati Allah SWT. Berikut resume kajian midori yang disampaikan oleh Ust. Bentang semalam (4 Oktober 2013) dengan judul "Menggapai Ridho Illahi". Jazaakallahu khoiron.

Dalam Surah Al Bayyinah ayat 7 dan 8 :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, mereka itu sebaik-baik makhluk"

جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ


"Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya".

Read more...

Tedi Kurniawan : "I Found Perfumes in Midori"

Assalamualaikum Wr. Wb.
Rekan-rekan Midori rahimakumullah,
Alhamdulillah kita dipertemukan kembali dengan hari Jumat yang di dalamnya penuh berkah. Pada kesempatan ini, seperti biasa kami mengundang rekan-rekan semua untuk datang pada Kajian Midori Jumat malam ini, 21 Juni 2013.
Berhubung salah satu rekan kita, Tedi Kurniawan, sebentar lagi mau meninggalkan Jepang, maka pada kesempatan ini Kang Tedi mau menyampaikan apa saja yang telah dia dapat selama tinggal di Jepang, kesan, dan pesan untuk rekan semua dan Midori pada khususnya. Eh, ternyata Kang Tedi ngirim pengantarnya lho, check it out!
I found Perfumes in Midori :)
A good friend and a bad friend are like a perfume-seller and a blacksmith: The perfume-seller might give you some perfume as a gift, or you might buy some from him, or at least you might smell its fragrance. As for the blacksmith, he might singe your clothes, and at the very least you will breathe in the fumes of the furnace. -[Sahih al-Bukhari, vol 3, #314 and Muslim]
Mari ramaikan Kajian Midori malam ini yang insyaAllah akan dilaksanakan pada:
Hari: Jumat, 21 Juni 2013
waktu: 20.00-22.00 JST
Tempat: Mushalla Ookayama S3 lantai 10+
Pemateri: Ust. Tedi Kurniawan
Tema: I found Perfumes in Midori
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keikhlasan kepada kita semua untuk menghadiri majlis ilmu ini.
Wassalamu'alaikum wr wb,
Pelayan Midori

Berlomba Pahala dengan Anak-anak

Berlomba Pahala dengan Anak-anak

Oleh Nopriadi Hermani Al-Midori,Ph.D#

Minggu-minggu ini waktu terasa mencekik. Beberapa agenda telah ada di depan mata, berantrian untuk diselesaikan. Di tengah 'tensi' yang meninggi ini tentu emosi harus selalu under control. Allah swt memberi kita kekuatan yang namanya 'Kesadaran' untuk memantau sedang apa pikiran, perasaan dan perbuatan kita. AlhamduliLLah, aku menyadari bahwa semua harus diresponse, dinikmati dan dimaknai lebih positive.

Hari itu Ahad siang, 3 Juni 2012. Di depan komputer aku bekerja sambil ditemani anak-anak yang lagi ribut bukan kepalang. Dengan menyadari bahwa mereka sedang mengekspresikan kebahagiaan dan hidup tanpa beban maka akupun menikmati bekerja sambil ditemani selingan 'musik dan film kegaduhan'. Kalau dipikir-pikir enak juga ya jadi anak-anak! Gak ada deadline thesis, conferense, presentasi,  dan banyak lagi pekerjaan yang kadang menjadi beban orang dewasa. Oh ya, sebenarnya bukan ini yang ingin aku sampaikan.

Ketika waktu sholat tiba, kuajak anak-anak sholat berjamaah. Kami menunaikan sholat Dzuhur bersama. Selepas sholat, seperti biasa bila ada kesempatan, kubuat kajian kecil-kecilan bersama anak-anak. Ini hanya untuk membiasakan mereka bahwa dakwah dan kajian itu adalah hal yang biasa. Sekalian mereka juga biar hafal bagaimana membuka sebuah kajian.Waktu itu kuajarkan mereka betapa mulianya dakwah. Satu hadits yang kusampaikan ke mereka adalah

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [H.R. Muslim].

Tentu dalam bahasa mereka kuberi penjelasan tentang hadits ini. Aku yakin hadits ini akan mampu memberi motivasi mereka untuk berdakwah dan menyuruh pada kebaikan.

Kalau abi nyuruh kalian sholat kemudian kalian sholat maka abi dapat pahala seperti pahala yang kalian dapat ketika sholat, tanpa mengurangi pahala kalian. Bila abi nyuruh kaka Shafa sholat, kemudian kaka shafa sholat maka abi dapat pahala seperti pahala kaka shafa. Kalau abi nyuruh de' Kautsar sholat dan de' kautsar sholat maka abi dapat pahala seperti pahala de' Kautsar.

Mendengar ini mereka bertiga mengatakan,

Ya...enak abi.

Akupun melanjutkan,

Makanya kalau kakak Shafa nyuruh de' Kautsar sholat atau bersih-bersih, kemudian dek Kautsar sholat dan bersih-bersih maka kakak Shafa juga dapat hal yang sama ".

Kemudian dek Kautsar pun protest dengan mengatakan,

Sekarang aku yang dijadikan contoh Bi.

Rupanya si Kecil minta dirinya dijadikan contoh. Maklumlah anak bungsu. He he he.

Ya, bila De' Kautsar ngingatin kaka Shafa dan bang Althof sholat atau ngerjain tugas dari abi-umi maka dek Kautsar akan dapat pahala seperti pahala yang didapat oleh kaka Shafa dan bang Althof"

AlhamduliLLah masing-masing mereka telah diberi tugas khusus oleh uminya, sehingga materi dakwa ini juga dalam rangka membagi wewenang pengawasan pada mereka untuk menunaikan amanahnya masing-masing. Namun ketika mengatakan kalimat ini dalam hatiku terbayang akan ada sedikit 'konflik' yang mungkin akan terjadi. Tapi gak apalah, namanya juga anak-anak. Justru pada setiap konflik kita mendapat peluang untuk memahamkan nilai kebaikan (Islam) kepada mereka.  Kalau hanya sekeder menyampaikan nilai-nilai kebaikan maka itu hanya sebagai 'wacana' yang mudah mereka lupakan. Namun bila mereka mengalaminya maka InsyaAllah mereka akan faham dan akan lebih mendalam penghayatannya.

Kemudian kutekankan pentingnya mengingatkan kebaikan itu dengan cara yang baik. Jadi, penekanannya dengan cara yang baik.  Aku hanya ingin mengantisipasi 'konflik' yang akan terjadi. Namanya juga anak-anak. Kemudian kultum selesai dan kuteruskan pekerjaan.

Selang satu dua  jam kemudian tiba-tiba di dapur aku mendengar si kecil, Kautsar, menangis pilu. Aku bertanya,

kenapa koq menangis?

Dari kejauhan sambil menatap abinya ia  mengatakan,

kalau aku mengingatkan, bang Althof gak mau dengerin. Kalau Abi yang ngingetin bang Althof baru mau melakukan. Aku gak dapat pahala, Abi yang dapat.

He he he ... Namanya juga anak-anak.  Sudah seperti yang kuduga sebelumnya, kejadian seperti ini akan terjadi. Maka aku memanggil Kautsar. Sambil tersedu ia mendekat dan mengatakan,

Aku gak berhasil, Aku gagal.

Serentak aku dan istri tertawa mendengar keluhan Kautsar. Lucu sekali mendengar "Aku gagal".  Dalam hati aku tertawa terpingkal-pingkal' (???).Lho ... He he he ..

Kemudian sambil tersenyum kudekap dek Kautsar,

Begini. De' Kautsar denger Abi ya. Sekarang Abi kasih tau sesuatu. Kalau de' Kautsar memberitahu bang Althof dengan baik-baik kemudian bang Althof gak mau, itu berarti  dek Kautsar sudah dapat pahala. Karena telah menyampaikan kebaikan. Bila bang Althof melakukan, maka de' Kautsar dapat tambahan pahala lagi seperti pahalanya bang Athof.  Nah, kalau ternyata bang Althof tidak nurut dan hanya nurut sama Abi InsyaAllah de' Kautsar tetap dapat pahala.

Aku sangat yakin dengan kalimat ini si Kecil akan merasa terpuaskan. Namun, aku terdiam sejenak. Dalam hati aku bertanya-tanya,

Apa benar penjelasanku? Hmm AlhamduliLLah InsyaAllah benar.

Akupun melanjutkan,

Ya. De' Kautsar khan ngasih tau bang Althof, kemudian Abi nambahin ngasih tau bang Althof, kemudian bang Althof melakukan InsyaAllah de' Kautsar dapat pahala.

Kulihat wajah si kecil Kautsar langsung berubah. Ia tidak terlihat sedih lagi dan kembali bersama abangnya. Dalam hati kecil aku berpikir,

Itulah fitrah anak kecil. Mereka akan melakukan segera apa yang kita ajarkan, terlebih hal-hal kecil yang berbuah besar (pahala dari Allah). Mereka akan sami'na wa ato'na. Mereka lakukan karena ingin mendapat reward pahala dari Allah swt. Mereka tidak memiliki akal yang sempurna, tapi mereka memiliki keinginan yang sempurna untuk mendapat hadiah dari Allah swt.

AlhamduliLLah sampai saat ini, InsyaAllah sampai besar nanti, mereka percaya dengan apa yang diajarkan Abi dan Uminya. AlhamduliLLah mereka juga sangat percaya dengan apa yang Abi dan Uminya sampaikan bahwa surga itu begitu indah dan kita membutuhkan banyak tiket untuk bisa masuk ke sana (dalam surga). Mereka memang tidak bisa langsung mengakses kebenaran yaitu Qur'an dan Hadits terkait surga ini, namun sampai hari ini mereka hanya mempercayakan kebenarannya melalui orang tuanya.  InsyaAllah ketika dewasa nanti mereka akan jauh lebih baik dari Abi dan Uminya dalam mengakses masa depan surga dan neraka melalui hadits dan Qur'an.

Nah, bagaimana dengan kita yang sudah dewasa ini? Sebegitu menggebukah keinginan kita melakukan amal kecil yang berbuah besar pahala dari Allah swt? Kecil di sini dalam artian tidak memerlukan energi, biaya, waktu dan segala aset yang sering kita hitung-hitung bila diberikan pada orang lain. Coba deh kita tanya dalam hati kita masing-masing, apakah lantunan do'a sering kita ucapkan pada setiap amal yang kita lakukan? Masuk dan keluar kamar mandi, sebelum dan sesudah tidur, sebelum dan sesudah makan, apakah do'a selalu kita panjatkan? Apakah kita terbiasa mengucapkan do'a sebelum amal untuk menyicil tiket menuju surga? Belum lagi sholat dhuha, sholat tahajud, sholat rawatib, membaca al qur'an, apakah kita melakukkannya untuk mendapatkan banyak voucher untuk keindahan akherat di surga?

Renungan ini sebenarnya mengingatkan diriku sendiri. Sepertinya aku harus lebih bersemangat dalam berlompa pahala dan tiket menuju surga dibanding dengan anak-anak yang akalnya belum sesempurna diriku yang sudah dewasa.

Semoga  Allah swt membimbing jalan hidupku, keluargaku dan kita semua untuk selalu beramal dan saling mengingatkan.

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu di dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal soleh dan berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran. (Al 'Asr 103: 1-3)

# Alumni Midori, Staf Pengajar Teknik Fisika UGM

Kepemimpinan Gaya Al Faruq

Kepemimpinan Gaya Al Faruq

Sesuatu yang lumrah bagi rakyat biasa, bisa jadi tidak biasa bagi seorang pemimpin.
Pemimpin harus menjadi teladan, sehingga dia harus lebih berhati-hati, jauh lebih berhati-hati daripada rakyat biasa.
Itulah harga yang harus dibayar seorang pemimpin, dan yang dibelinya adalah surga!
Nabi mengatakan tentang 7 golongan yang akan dinaungi Allah di hari pengadilan nanti,
salah satunya adalah Pemimpin Yang Adil.

Tersebutlah kisah Umar bin Khattab dan salah satu putranya.
Umar mendengar berita anaknya sukses beternak kambing dan mendapat banyak keuntungan dari usahanya.
Rupanya khalifah kurang senang mendengar hal tersebut, lalu dia bergegas menemui anaknya.
"Wahai anakku, jualllah kambing-kambingmu, ambil pokoknya, dan untungnya sedekahkan", Umar berkata.
Sang anak rupanya kurang setuju, argumennya:
"Ayah, aku berniaga dengan cara yang halal. Aku membeli kambing, kuternak sampai gemuk lalu kujual"
Umar menjawab:
"Anakku, tidakkah kau tahu bahwa orang-orang yang kau suruh menggembalakan ternakmu selalu mengatakan: "Dahulukan kambing putra khalifah, dahulukan kambing putra khalifah."
Apakah kalau aku tidak menjadi khalifah, kambing-kambingmu akan segemuk sekarang?"

Lalu sang anakpun patuh kepada ayahnya.

Demikianlah potret pemimpin teladan, sesuatu yang boleh bagi orang awam, bisa jadi berat baginya.
Contoh di atas mungkin terlalu ideal, karena kita tak sebaik Umar, dan putra kita pun tidak sesalih putra Umar.
Hanya spiritnya, barangkali bisa jadi teladan. Jangan memakai alasan, apa salahnya kan halal, saja. [Azhari Sn Al-Midori (Alumni Midori), NSK Indonesia]

Mimpi Perubahan itu...Mulai dari Kita!!

Mimpi Perubahan itu...Mulai dari Kita !!

Oleh Wisnu Ananta Kusuma Al-Midori, Dr.Eng*

Apa yang dilakukan Stan Shih pendiri Acer, ketika melihat perusahaan yang didirikannya terancam kebangkrutan? Apakah ia memulai dengan mem-PHK-kan karyawan-2nya seperti biasa dilakukan orang kebanyakan? Tidak ! Dalam bukunya "Me-Too is not My Style", ia menuturkan memulai penyelamatan itu dari diri dan orang-orang terdekatnya. Ia membuat putusan radikal pemotongan gaji karyawan dimulai yang tertingi, yaitu dirinya sampai level menengah. Untuk dirinya sebagai CEO, dia putuskan pemotongan 100%, artinya mulai saat itu ia tidak menerima gaji sepeser pun sampai perusahaanya pulih. Selanjutnya manajer-2 di bawahnya dipotong gajinya 50% dan seterusnya, makin rendah levelnya makin sedikit potongannya. Karyawan tanpa jabatan tidak dipotong sedikitpun. Kebijakan ini membuahkan hasil, alih-alih bangkrut, Acer justru makin berkembang, seperti yang kita lihat sekarang.

12 abad sebelumnya, salah seorang khalifah teladan, Umar bin Abdul Aziz, melakukan pencapaian yang sulit dipercaya. Hanya dalam waktu 2-3 tahun kepemimpinannya, kondisi umat yang tadinya penuh ketimpangan dan kesenjangan antara yang kaya dan miskin berubah menjadi masyarakat yang makmur dan diliputi keadilan sehingga sulit untuk mencari orang-orang yang berhak menerima zakat. Apa yang dilakukan beliau pada masa pemerintahan yang singkat itu? Dalam buku Umar bin Abdul Aziz karangan Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, diceritakan Umar bin Abdul Aziz yang ketika sebelum menjadi khalifah adalah seorang yang kaya, membuat kebijakan radikal yang dimulai dari dirinya sendiri dan dilanjutkan kepada pejabat-pejabat pembantunya. Maka yang beliau lakukan pertama kali adalah mengembalikan hak-hak kepada pemilikknya. Segala hadiah yang dulu ia terima sebelum menjadi khalifah, baik dari negara maupun orang lain, ia kembalikan kepada yang hak. Beliau mengganti barang-barang mewah yang ia miliki menjadi barang biasa (barang-2 perak diganti besi). Hartanya sebelum menjadi khalifah adalah 40 ribu dinar. Ketika wafat hanya meninggalkan 60 dinar, karena beliau tidak pernah mengambil rizki sedikitpun dari Baitul Mal untuk dirinya (pada jaman nabi 1-2 dinar setara dengan seekor kambing, kalau harga kambing skrg 1jt, maka kekayaan beliau sebelum jadi khalifah adalah 40 milyar dan hanya tersisa 60 juta ketika meninggal).

Dengan MEMULAI DARI DIRI SENDIRI DAN LINGKARAN TERDEKATNYA itulah, kedua profil di atas mampu membuat perubahan radikal ke arah kabaikan, kesejahteraan, dan keadilan dalam waktu singkat.

Nah, terkait dengan kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah. Saya tidak tertarik untuk membahasnya, apakah langkah yang tepat atau tidak, apakah harus pro atau kontra. Selain karena tidak faham kalkulasi ekonomi dan politik, saya hanya ingin fokus menyibukkan diri saya untuk belajar dari langkah-langkah dan tindakan-tindakan "MANUSIA YANG BUKAN BIASA", manusia-manusia tipe ini MEMULAI kebijakannya dari DIRINYA, KETAT pada DIRI SENDIRI, tapi MEMUDAHKAN dan EMPATI pada orang lain khususnya masyarakat kecil. Manusia-manusia seperti inilah yang insya Allah mampu membalikkan kesenjangan dan keterpurukan menjadi keadilan dan kegemilangan dalam waktu yang tidak lama. Wallahu 'alam.

* Alumni Midori, Staf Pengajar Ilmu Komputer IPB

Membina Diri dengan Misi para Pemenang

 

Membina Diri dengan Misi para Pemenang

*Ikhlash lil Khaliq, Ihsan lil makhluq*

Oleh Topan Setiadipura#

Hayya `alal falaah...

Hayya `alal falaah...

Kemenangan, kesejahteraan, atau keberuntungan  yang dalam istilah al Qur`an disebut al falah, merupakan tujuan dari syari`at Islam ini. Ajakan Islam adalah ajakan untuk memperoleh al falah di dunia dan akhirat sebagaimana senantiasa diulang dalam panggilan adzan diatas.

Para ulama menjelaskan bahwa al falah artinya mendapatkan kebaikan yang kita inginkan dan terbebas dari apa yang kita takutkan baik di dunia dan akhirat. Kemenangan terbesar tentunya mendapatkan kenikmatan surga dan terbebas dari azab neraka*.

Sebagai bentuk rahmat-Nya Allah ta`ala pun menjelaskan jalan-jalan kemenangan tersebut. Diantara bimbingan tersebut Allah ta`ala berikan dalam ayat al Qur`an berikut

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱرۡڪَعُواْ وَٱسۡجُدُواْ وَٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُواْ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, rukulah, sujudlah, dan sembahlah rabb-mu, serta perbuatlah kebaikan agar kamu mendapat kemenangan." [QS al Hajj, 22:77]

Dengan begitu indahnya Al-`Aliimm -yang maha mengetahui- memberikan arahan dengan kalimat la`allakum tuflihuun, agar kalian mendapat kemenangan. Dalam ayat diatas Allah ta`ala menjelaskan bahwa jalan untuk meraih al-falaah adalah dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah ta`ala dan berusaha untuk melakukan kebaikan bagi hamba-hamba Allah*, ikhlash lil khaliq wal ihsan lil makhluq. Ruku dan sujud mewakili ibadah kepada Allah ta`ala, sedangkan kebaikan yang disebutkan setelahnya adalah kebaikan kepada makhluk Allah. Sebagaimana dalam banyak ayat sering disebutkan sholat dan zakat secara bersamaan dimana sholat mewakili ibadah kepada Allah ta`ala dan zakat mewakili kebaikan yang kita lakukan kepada sesama makhluk Allah ta`ala.

Ayat ini mengajarkan agenda pembinaan yang harus kita lakukan agar menjadi pribadi dan ummat pemenang. Pembinaan utama kepada pribadi-pribadi ummat ini adalah menanamkan kepada mereka tujuan yang benar. Tujuan yang benar tersebut ditunjukkan dalam ayat ini yaitu untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ta`ala semata, dan melakukan kebaikan bagi makhluk Allah. Tujuan inilah yang menjadi motivasi sekaligus warna dari semua aktifitas yang mereka lakukan. Nuansa ibadah selalu hadir dalam semua amalan yang dilakukannya, bahkan ketika ia melakukan kebaikan bagi makhluk Allah pun ia melakukannya semata sebagai bentuk ibadah kepada Allah `azza wa jalla**.

Dengan tujuan ini mereka selalu bersegera dan bersemangat melakukan kebaikan dan perbaikan sebagai ibadah kepada Allah yang telah mencipta dan memberinya semua kenikmatan, juga menunaikan amanah ilahy untuk memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi alam semesta.

...wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil`aalamiin.


Catatan kaki :

*Simak diantaranya Taisir al Kariim ar Rahman fii Tafsiir Kalaam al Mannaan oleh Abdurrahman As Sa`di rahimahullah.

** Simak diantaranya QS Al Insaan,76:9, "innamaa nuth`imukum liwajhillah, laa nuriidu minkum jaza-an walaa syukuuran", artinya "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap ridhla Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kau dan tidak pula (ucapan) terima kasih."

#Mahasiswa Tokodai bidang Teknik Nuklir


Kesejahteraan Ekonomi dan Nilai Moral Islam

Kesejahteraan Ekonomi dan Nilai Moral Islam

Oleh Muhammad Umar Chapra

(Alih bahasa oleh Topan Setiadipura*)

“Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [QS Al Baqarah(2):60]

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan “[QS Al Baqarah(2):168]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” [QS Al Maidah(5):87-88]

 

Ayat-ayat Al Qur`an diatas, serta banyak ayat lainnya[1], menyampaikan kunci dari pesan Al Qur`an dalam bidang ekonomi. Islam mengajarkan seorang muslim untuk menikmati dan memanfaatkan anugerah yang disediakan oleh Allah. Islam tidak menetapkan batas kuantitatif tertentu dalam perkembangan kekayaan material suatu masyarakat muslim. Bahkan, Islam menilai usaha manusia untuk memperoleh kesejahteraan material sebagai tindakan terpuji.

Read more...

Tujuan Ekonomi Islam (Pengantar)

Tujuan Ekonomi Islam

Oleh Muhammad Umar Chapra

(Alih bahasa oleh Topan Setiadipura*)

 

Islam bukanlah agama yang mengajarkan kerahiban[1]. Islam tidak hadir untuk menjauhkan manusia dari berbagai anugerah dan kenikmatan yang telah Allah, Tuhan semesta alam, berikan. Tentang ini Allah berfirman

"Katakanlah: ""Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?"…" [QS Al A`raf (7) : 32]

Islam tidak melihat manusia sebagai makhluk terhina karena dosa yang ia bawa sejak lahir, namun dalam pandangan Islam manusia adalah makhluk yang terhormat sebagai khalifah atau wakil Allah ta`ala dimuka bumi ini. Tentang penciptaan manusia pertama , Allah ta`ala berfirman

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” [QS Al Baqarah(2):30]

 

Dimana untuk menjalankan peran ke-khalifahan itulah Allah menyediakan segala sesuatu di bumi ini.

Read more...

Perang Uhud dan Logika Kemenangan

Perang Uhud dan Logika Kemenangan

“Jika Allah menolong kalian maka tidak ada yang dapat mengalahkan kalian…”

Oleh Topan Setiadipura#

Sebagaimana momen sejarah Islam lainnya, khususnya yang diangkat dan diabadikan dalam AlQur`an, perah Uhud memberikan banyak pelajaran bagi kita.

Setelah mengisahkan perang Uhud, Allah ta`ala memberikan sebuah pelajaran agung dalam ayat berikut

“Jika Allah menolong kalian maka tidak ada yang dapat mengalahkan kalian. Dan bila Allah meninggalkan kalian maka siapa lagi yang dapat menolong kalian selain Allah. Dan kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal” [ QS Ali Imran, 3: 160]

Melalui ayat ini Allah mengajarkan sebuah prinsip penting, menanamkan sebuah logika kemenangan bahwa kemenangan atau keunggulan hanya akan diraih ketika kita ditolong oleh Allah ta`ala.

Prinsip dan logika kemenangan ini bukanlah sesuatu yang bersifat pasif. Logika kemenangan ini sama sekali tidak mengajarkan kaum muslimin untuk hanya berpangku tangan mengharapkan pertolongan Allah ta`ala, atau mengharapkan juru selamat yang dihadirkan kepada mereka. Pinsip dan logika kemenangan ini justeru memotivasi kaum muslimin untuk meraih kemenangan dengan tangannya sendiri, dengan bersemangat bahkan berlomba untuk memiliki sifat dan kerja-kerja yang dengannya mereka layak ditolong oleh Allah ta`ala. Dengan prinsip dan logika kemenangan ini pula mereka menjaga diri dari sifat dan kerja-kerja yang akan membuat mereka kehilangan hak untuk ditolong Allah ta`ala.

Hal ini lebih jelas ketika kita menyimak diantara detail kisah perang Uhud sebagaimana Allah kisahkan beberapa ayat sebelum pelajaran besar diatas. Allah berfirman

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya. Sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan kamu mendurhakai (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Diantaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantaramu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” [ Qs Ali Imran, 3: 152]

Allah telah membuktikan janji-Nya untuk menolong kaum muslimin sehingga mereka bisa unggul terhadap musuh-musuhnya. Hingga kaum muslimin melakukan hal-hal yang membuat mereka pada saat itu tidak layak ditolong Allah ta`ala. Ketika mereka, khususnya pasukan pemanah saat perang Uhud, lemah dan berselisih, menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu`alaihiwasallam karena kecintaannya pada dunia.

Prinsip dan logika kemenangan ini sangatlah penting untuk diyakini. Namun, prinsip dan logika kemenangan ini semata tidaklah cukup untuk mendatangkan kemenangan dan keunggulan yang kita dambakan. Prinsip dan logika kemenangan ini melahirkan pertanyaan bagi kita, `siapakah orang yang akan ditolong oleh Allah ta`ala ?`, `sifat dan kerja apakah yang membuat seseorang berhak mendapat pertolongan Allah ta`ala ?`.

Maka keyakinan kita akan prinsip dan logika kemenangan ini harus begitu besar sehingga bisa menjadi motivasi dan bahan bakar bagi kita untuk memanfaatkan dua anugerah Allah ta`ala yaitu Al Qur`an dan As Sunnah, mencari jawaban dari pertanyaan tadi serta bersungguh-sungguh mewujudkannya dalam diri kita. Dengan prinsip dan logika kemenangan ini kita terus berjuang mensifati dan melakukan kerja-kerja para pemenang hingga waktu yang ditetapkan oleh Allah ta`ala.

#Mahasiswa doktoral Nuclear Engineering Dept. Tokodai.

More Articles...

Page 1 of 2

Start
Prev
1

Learning About Islam

Banner

Midori-ISC Mendukung

Banner

Donasi Masjid Meguro

Gunakan kartu kredit atau akun paypal anda untuk berdonasi.

Pilih jumlah donasi :


Secured transaction by PayPal
Donasi akan terpotong biaya transaksi PayPal

Login Form



Who's Online

We have 4 guests online